Terkini.id, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa Jepang sempat ajukan protes perihal Indonesia akan mengembangkan mobil listrik.
Pemerintah saat ini tertarik untuk melakukan pengembangan mobil listrik.
Sementara di sisi lain, ada teknologi hybrid sebagai perantara yang dimana sangat diminati pemain lama terutama dari Jepang seperti Toyota hingga Mitsubishi.
Oleh karena itu, kata Luhut, investor Jepang yang sedari awal sudah berinvestasi triliunan rupiah dalam teknologi mobil hybrid marah.
Para investor Jepang itu menanyakan mengapa tak mengembangkan teknologi hybrid dulu.
- Hemat Anggaran, Munafri Arifuddin Andalkan Mobil Listrik Warisan Pemerintahan Lama
- Mobil Listrik Buatan Siswa SMKN 2 Pangkep Digunakan Gubernur Sulsel Pimpin Apel Satpol PP di Wajo
- Booming Usai IIMS, Mobil Listrik VF3 Vinfast Kini Dipasarkan di Makassar
- Haka Auto Jadi Mega Dealer BYD, Ikut Memacu Pertumbuhan Mobil Listrik Tanah Air
- Mobil Listrik dari Tiongkok BYD Haka Ekspansi ke Indonesia Timur, Buka 3 Showroom Sekaligus
“Jepang marah pada kita. Mereka bertanya mengapa kami tidak mempertimbangkan untuk mengembangkan mobil hybrid terlebih dahulu,” ujar Luhut, dikutip dari Harian Haluan, Jumat, 19 Maret 2021.
Bahkan, investor Jepang pun menuding Luhut sebagai orang yang Pro-Cina.
Mengingat proyek pembangunan baterai Lithium bekerjasama dengan perusahaan asal Cina yakni CATL.
“Dan saya dituduh pro-Cina, saya bilang urusan apa pro-Cina. Mengapa kita harus hibrida sementara kita bisa langsung mengembangkan kendaraan listrik?” tegas Luhut.
Luhut juga meyakini Indonesia bisa mengembangkan mobil listrik karena negeri ini memiliki cadangan besar dalam sumber daya alam.
Indonesia juga diketahui mempunyai banyak kandungan nikel yang merupakan komponen utama mobil listrik.
“Kuncinya adalah baterai lithium dan kami memiliki cadangan bijih nikel terbesar di dunia. Beberapa tahun yang lalu, kami mulai mengembangkan industri hilir (untuk nikel) tetapi kami tidak dapat melakukannya sendiri. Kami tidak memiliki aplikasi teknologi lengkap jadi kami berhubungan dengan China,” kata Luhut.
Walaupun sempat menuding Luhut Pro Cina, pada akhirnya beberapa investor dan korporasi asal Jepang ikut untuk menanamkan investasinya.
Seperti Toyota berkomitmen investasi Rp28,3 triliun Mitsubishi sebesar Rp 11 triliun serta Honda dengan Rp. 5,2 triliun.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
