Masuk

Kang Dede: Gerombolan ‘Mahasewa’ itu Ditunggangi Para Teroris, Radikalis dan Khilafuck!

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Komisaris Independen PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Krisitia Budhyarto atau Kang Dede menyebut mahasiswa massa aksi 11 April 2022 yang ia plesetkan menjadi mahasewa ditunggangi oleh para teroris serta kelompok radikalis lainnya.

Kang Dede menilai bahwa aksi ini merupakan keinginan kelompok haus kekuasaan yang menjadikan mahasiswa sebagai tameng pergerakan.

Tulisan Kang Dede ini diposting melalui sebuah cuitan di media sosial Twitter, sebagaimana dilihat pada, Senin 11 April 2022.

Baca Juga: Politisi Demokrat Akan Laporkan Komisaris Pelni Terkait Cuitan ‘Khilafuck’

Gerombolan mahasewa itu ditunggangi para teroris, radikalis dan pengasong khilafuck yang dibiayai oleh bandit-bandit politik haus kekuasaan”, tulis Kang Dede.

Screenshot cuitan Kang Dede (Twitter).

Dilansir Terkini.id, Kang Dede memang kerap kali membuat cuitan-cuitan yang kontrovesrial, terlebih saat ini dia menduduki posisi penting di BUMN, yakni komisaris independent PT Pelni.

Kang Dede menyebut bahwa apa yang menjadi tuntutan massa aksi merupakan bentuk Playing Victim untuk menggulingkan kekuasaan.

Baca Juga: JIS Belum Siap untuk Liga 1 2022-2023, Kang Dede: Makin Jelas Kualitas Kaleng-Kaleng

“Playing victim model lama yang selalu dilakukan gerombolan radikalis, teroris dan bandit-bandot politik haus kekuasaan. Pernah juga dilakukan para SJW penggeruk dollar jika sudah terpojok”, tulis Kang Dede.

Screenshot cuitan Kang Dede (Twitter).

Kang Dede diketahui berada di barisan pemerintah yang kerap kali menentang para oposisi yang menjatuhkan Jokowi.

Terbukti dari cuitan-cuitannya di media sosial Twitter yang kerap kali mengundang kontroversi dan memancing amarah publik karena dinilai seorang komisaris BUMN semestinya menjadi contoh untuk publik, namun yang terjadi adalah kebalikannya.

Terlebih, keadaan seperti ini dia menyinggung keras para mahasiswa yang menurutnya ditunggangi oleh segelintir orang untuk menurunkan Jokowi.