Masuk

Kemal Ataturk Ditolak, Ferdinand: Lucu Memang Arab-Arab Palsu dan Taliban di Negeri Ini

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Mantan politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menyindir orang-orang di Indonesia yang menolak Mustofa Kemal Ataturk.

Ferdinand Hutahaean menyindir bahwa para “Arab palsu” dan “Taliban pesek” di di negeri ini memang lucu.

“Lucu mmg Arab-Arab palsu dan Taliban pesek di negeri ini,” katanya melalui akun Twitter @FerdinandHaean3 pada Minggu, 31 Oktober 2021.

Baca Juga: Unggah Foto Bersama Ruhut Sitompul, Twitter Ferdinand Hutahaean Dibanjiri Ratusan Komentar

Ferdinand Hutahaean mengatakan bahwa di Turki, Mustafa Kemal Ataturk sangat dihormati sebagai Bapak Bangsa dan fotonya diangkat saat perayaan hari Republik. 

“Di sisi lain, Turki pesek disini mengangungkan Turki dan Erdogan yang pendukung Ataturk,” sindirnya.

Bersama pernyataannya, Ferdinand membagikan berita soal warga Turki bersukacita merayakan hari kelahiran Republik Turki pada Jumat, 29 Oktober 2021.

Baca Juga: Ferdinand Hutahaean: Selama Tidak Ada Bukti, Perkataan Anies Baswedan dan Pendukungnya adalah Omong Kosong

Dilansir dari Detik News, mereka merayakan hari peralihan Turki dari sistem kesultanan ke negara modern berbentuk republik.

Mustofa Kemal Ataturk adalah tokoh yang menggagas Turki modern dalam bentuk Republik, menggantikan sistem kesultanan.

Bagi sebagian orang, gagasan Kemal Ataturk itu merupakan arus sekularisme yang memisahkan negara dan agama.

Adapun belakangan, nama Kemal Ataturk dibicarakan di Indonesia usai muncul usulan agar jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat diganti dengan dengan nama Mustafa Kemal Ataturk.

Baca Juga: Anies Baswedan Dipanggil KPK Terkait Formula E, Ferdinand Hutahaean Titip Pertanyaan

Beberapa pihak menolak keras nama Kemal Ataturk dijadikan nama jalan. Salah satu yang menolak, yakni Wakil Ketua Umum, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas.

Bagi Anwar Abbas, Kemal Attaturk adalah orang memiliki pemikiran sesat dan menyesatkan.

“Jadi Mustafa Kemal Ataturk ini adalah seorang tokoh yang kalau dilihat dari fatwa MUI adalah orang yang pemikirannya sesat dan menyesatkan,” ujarnya pada Minggu, 17 Oktober 2021, dilansir dari CNN Indonesia.

Anwar Abbas menjelaskan, MUI pernah mengeluarkan fatwa tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama pada 2015 lalu. 

Pada intinya, fatwa itu menyatakan bahwa ajaran pluralisme, sekulerisme, dan liberalisme agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Sementara, menurut Anwar Abbas, Kemal Ataturk merupakan tokoh pembaharu Islam yang telah mengacak-acak ajaran Islam sendiri. 

Ataturk dinilai banyak melakukan hal yang bertentangan dengan ketentuan dalam Alquran dan sunah.

“Oleh karena itu kalau pemerintah tetap akan mengabadikan namanya menjadi salah satu nama jalan di Ibukota Jakarta hal itu jelas merupakan sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak arif serta jelas-jelas akan menyakiti dan mengundang keresahan di kalangan umat Islam,” kata Anwar Abbas.