Kesadaran Tumbuh dari Luka

Kesadaran Tumbuh dari Luka

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Mereka paham benar soal nilai investasi, soal grafik ekonomi, tapi tak mendengar suara tanah yang pecah, atau napas anak-anak yang mulai pendek.

Mungkin di situlah letak persoalannya: bukan pada kekurangan pengetahuan, melainkan pada keengganan untuk benar-benar melihat.

Menurut data Badan Pusat Statistik (2024), masih ada sekitar 36 juta warga Indonesia masih hidup tanpa akses air layak dan sanitasi. Padahal kita telah bersepakat, di dalam UUD Pasal 28H, bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Tetapi pasal-pasal konstitusi sering dikalahkan oleh pasal-pasal dalam dokumen proyek.

Kesadaran yang terlambat menjelma menjadi bencana yang menahun. Ia bukan sekadar abai, melainkan luka yang terus diwariskan. Sedikit demi sedikit, ia mengubah warga menjadi korban yang diam, yang terbiasa menderita tanpa sempat bertanya: mengapa?

Ketika listrik padam berjam-jam di pedalaman, warga hanya berkata pelan, “Begitu memang di sini.” Tak ada protes, hanya penerimaan yang lahir dari kelelahan.

Baca Juga

Ketika sekolah ambruk diterpa angin, para guru menyambut reruntuhan dengan kalimat yang dingin: “Sudah biasa, Pak.” Seolah bencana adalah musim yang datang teratur, dan tak perlu ditanyakan asal-usulnya.

Kesadaran yang lambat menjadikan penderitaan sebagai kewajaran. Ia membuat orang berhenti menuntut, dan mulai belajar beradaptasi pada kekurangan. Lama-lama, keluhan pun jadi barang mewah.

Apa yang membuat kesadaran begitu lambat datang?

Barangkali karena terlalu banyak orang yang diajarkan untuk patuh, bukan berpikir. Terlalu banyak yang lebih memilih diam, karena tahu suara mereka tak sampai ke telinga siapa-siapa. Atau mungkin, karena terlalu sering disuruh sabar, sampai akhirnya lupa cara marah.

Mungkin karena tak pernah benar-benar diajar untuk melihat lebih dalam. Sejak awal, pendidikan hanya melatih menghafal, bukan memahami; mengejar nilai, bukan merenungi makna. Segala yang sunyi dianggap sia-sia, dan segala yang cepat dianggap cerdas.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.