Makassar Terkini
Masuk

Kesal Pegawai KPK Keluarga Kiai Dinonaktifkan, Putri Gus Dur: Zalim!

Terkini.id, Jakarta – Putri Gus Dur, Alissa Wahid tampak kesal dengan KPK yang menonaktifkan sejumlah pegawainya termasuk orang yang ia kenal dekat dan berasal dari keluarga kiai.

Alissa Wahid lewat cuitannya di Twitter, Rabu 12 Mei 2021, menyebut KPK dengan istilah ‘mbelgedes’ lantaran menonaktifkan salah seorang pegawai KPK yang dulunya adalah asisten pribadinya yakni Tata Khoiriyah.

Menurutnya, Tata Khoiriyah merupakan pribadi yang berintegritas lantaran staf Humas KPK itu merupakan keluarga kiai.

Selain itu, kata Alissa, Tata secara wawasan kebangsaan juga memiliki integritas lantaran dia sejak muda telah aktif di Nahdlatul Ulama (NU).

Bahkan, menurut Alissa, mantan asisten pribadinya itu juga ikut membesarkan jaringan Gusdurian.

Maka dari itu, Alissa Wahid merasa heran dengan dinonaktifkannya Tata Khoiriyah dengan alasan tak lolos tes uji wawasan kebangsaan bagi pegawai KPK.

“Confirmed bagi saya, TWK KPK_RI mbelgedes. Mbak tatakhoiriyah staf Humas KPK dinyatakan tidak lolos. Dulu asisten personal saya, keluarga kyai, qunut wolak-walik, sejak muda aktif di NU, ikut merintis & besarkan jaringan gusdurian, ya kali tidak punya wawasan kebangsaan,” cuit Alissa Wahid.

Oleh karenanya, Alissa menilai KPK sudah zalim terhadap Tata Khoiriyah lantaran telah menghancurkan nasib Tata dengan stempel litsus.

“Dan tatakhoiriyah saya tahu luar dalam. Dzalim. Menghancurkan nasib orang dengan stempel litsus,” ungkapnya.

Selain Tata Khoiriyah, Alissa juga mengaku kenal dekat dengan salah seorang pegawai KPK lainnya yang juga ikut dinonaktifkan yakni Sujanarko.

Menurut Alissa Wahid, Sujanarko tak mungkin tidak memahami soal korupsi lantaran dialah yang pernah memberikan penjelasan kepada Alissa terkait rumitnya persoalan korupsi di Indonesia.

Tak hanya itu, putri almarhum Gus Dur ini juga mengungkapkan bahwa Sujarnako adalah orang yang menemaninya saat dirinya sowan ke sejumlah ulama tanah air seperti Gus Mus dan KH Maimoen Zubair.

“Pak Koko. Yang bantu saya pahami betapa kompleksnya situasi korupsi Indonesia. Yang saya temani sowan kyai-kyai dari GusMus sampai Mbah Maimoen Zubair, bikin halaqah anti korupsi NU di 14 kota. Yang sejak dulu sampai sekarang tak berubah: rasional, tak pakai sentimen saat menganalisis,” ujarnya.