Fahmi mencontohkan Gloria Natapradja Hamel, pelajar blasteran Sunda-Prancis yang menjadi anggota Paskibraka nasional tahun 2016, serta Maria Felicia Gunawan, pelajar etnis Tionghoa yang dipercaya sebagai pembawa baki bendera pusaka tingkat nasional pada 2015.
“Negara tidak pernah membedakan putra-putri terbaik bangsa berdasarkan keturunan, melainkan berdasarkan kemampuan, kedisiplinan, karakter, dan integritas,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Fahmi juga menyoroti fenomena menurunnya minat pendaftar seleksi resmi Paskibraka, meski aktivitas pembinaan paskibra di sekolah maupun perlombaan justru semakin berkembang.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi pertanyaan besar karena antusiasme pembinaan tinggi, tetapi kepercayaan terhadap proses seleksi dinilai mengalami penurunan.
“Hampir setiap bulan ada lomba paskibra tingkat SMA hingga universitas yang pesertanya selalu ramai. Sekolah aktif melakukan pembinaan dan orang tua rela mendukung penuh anaknya. Namun kepercayaan terhadap sistem seleksi justru menurun,” katanya.
- Kelolaan Emas BSI Regional Makassar Tembus 163 Kilogram, Berat Transformasi Digital Bulion Bank
- Beasiswa Kalla 2026 Resmi Dibuka, Dukung Generasi Muda Indonesia dan Berdaya
- Dian Ayu Pratiwi Satria, Hadir di Tengah Warga Kalimporo, Reses Jadi Jembatan Aspirasi Nyata
- Lion Group Hadirkan Promo Cashback hingga Umrah lewat Event BookCabin Travel Fair
- Lewat Inovasi Digital, BNI Dorong UMKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Ekspor
Fahmi menilai salah satu faktor yang perlu menjadi bahan evaluasi adalah minimnya keterbukaan dalam proses penilaian.
“Ketika peserta, pelatih, maupun sekolah merasa proses penilaian tertutup dan hasil akhirnya tidak dapat dijelaskan secara objektif, maka semangat generasi muda untuk berpartisipasi perlahan akan terkikis,” ujarnya.
Selain itu, ia juga memandang perlu adanya penegasan aturan terkait representasi daerah dalam seleksi Paskibraka tingkat provinsi.
Menurut Fahmi, hingga saat ini tidak terdapat regulasi resmi yang melarang peserta terpilih berasal dari daerah yang sama apabila memang memiliki kompetensi terbaik.
“Jika keputusan didasarkan pada alasan pemerataan wilayah tanpa aturan tertulis yang jelas, maka hal itu justru berpotensi melahirkan ketidakadilan baru,” kata Fahmi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
