Masuk

Siswi SMPN 46 Jaksel Ditegur Karena Tidak Pakai Hijab, Kepala Sekolah: Mengingatkan Sesama Muslim

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Kepala SMPN 46 Jakarta Selatan memberikan pendapatnya terkait berita tentang salah satu guru menegur seorang siswi (R) karena tidak memakai hijab.

Endin Haenudin selaku Kepala SMPN 46 Jakarta Selatan mengatakan teguran tersebut bukan dalam bentuk bully atau membuat malu siswi tersebut.

Ia berpendapat bahwa teguran sang guru terhadap siswi yang tidak memakai hijab itu hanyalah bentuk untuk saling mengingatkan sesama penganut agama Islam.

Baca Juga: Polisi Amankan CCTV di Rumah Lesti Kejora dan Rizky Billar, Dalami Laporan KDRT

“Proses menanya itulah yang tidak siap oleh yang bersangkutan. Tidak ada bully atau mempermalukan atau mempermainkan, karena sedang proses pembelajaran. Ya karena mengingatkan sesama muslim ‘Kamu muslim? Kok belum pakai kerudung’, kenapa guru mempertanyakan itu karena ada tanggung jawab moril,” ujar Endin Haenudin saat ditemui, dikutip dari detikcom, Rabu 3 Agustus 2022.

Kepala SMPN 46 Jaksel ini tidak mengetahui kapan guru tersebut menegur R soal tidak mengenakan hijab.

“Peristiwa mungkin sebelum tanggal 28 Juli kakaknya ke sini itu Kamis tanggal 28,” kata Endin Haenudin.

Baca Juga: Viral Diduga Pertengkaran Lesti Kejora dan Rizky Billar Hingga Sebut Nama Hewan Ini

Merasa keberatan karena adiknya ditegur oleh pihak sekolah, kakak R langsung mendatangi SMPN 46 Jaksel dan meminta penjelasan secara lengkap soal kejadian ini.

Selanjutnya Endin Haenudin langsung menggelar rapat bersama dan membahas situasi yang menjadi viral ini.

“Minggu sore (31/7) itu ada kegiatan saya ditelepon. Lalu saya langsung pulang kumpulkan guru, siapa apa bagaimana. Saya lakukan pembinaan, langsung saya undang juga unsur dari Dinas. Kemudian hari Senin pagi dengan koordinasi dengan Sudin dan Dinas,” tutur Endin Haenudin.

Insiden soal teguran tidak memakai hijab telah diklarifikasi kepada kakak R. Karena sudah diklarifikasi dan dikomunikasikan dengan pihak keluarga siswi yang bersangkutan, maka kasus ini dianggap telah selesai.

Baca Juga: Klaim Punya Tambang Emas, Lukas Enembe Ajak KPK ke Papua Kalau Ragu

“Kejadian itu sudah diklarifikasi, sudah diselesaikan dari pihak dinas juga sudah turun melakukan klarifikasi koordinasi ke sekolah kepada pihak-pihak yang dianggap terkait,” ungkap Endin Haenudin.

“Kemudian dengan pihak orang tua dalam hal ini wali dari siswi tersebut sudah dilakukan komunikasi sehingga permasalahan ini sudah selesai,” lanjut Endin Haenudin.

Sementara itu guru yang menegur R untuk menggunakan hijab telah mendapatkan pembinaan.

Ia juga membeberkan bahwa kondisi R saat ini dalam keadaan yang ceria dan tetap tidak dipaksakan untuk memakai hijab.

“Sanksi nggak, ya, tetapi pembinaan, karena belum mengarah kepada sebuah pelanggaran yang bersifat verbal maupun fisik, bersifat mengingatkan. Nggak (sampai sekarang R tidak memakai jilbab), dan yang nggak pakai bukan dia saja, dan yang bersangkutan saya lihat tidak melihat merasa tertekan. Dia gembira berlari,” papar Endin Haenudin.

Dirinya  menegaskan bahwa SMPN 46 Jaksel tidak mewajibkan seluruh siswinya untuk mengenakan hijab.

Soal apakah sang siswi ini ingin memakai hijab akan dikembalikan lagi kepada individu itu sendiri.

“Pemakaian kerudung di sekolah tidak diwajibkan. Jadi pemakaian kerudung individu yang mau,” terang Endin Haenudin.

Sebagai informasi, kakak R (DN) yang merupakan wali murid dari SMPN 46 Jaksel merasa heran dengan tingkah adiknya yang tiba-tiba minta dibelikan hijab dalam jumlah banyak.

“Adik saya ini belum pakai kerudung jika di sekolah dan saya mengetahui permasalahan ini ketika adik saya yang meminta dibelikan kerudung lebih dari satu. Saya bertanya ‘Kenapa banyak banget? Kan dipakai hanya hari Jumat saja’,” imbuh Endin Haenudin.

R akhirnya berkata jujur kepada sang kakak dan bercerita soal teguran yang ia dapatkan dari gurunya di sekolah.

“Adik saya bilang sudah ada dua guru yang menegur mengenai kerudung. Teguran seperti, ‘R kamu kan muslim pakai kerudung ya’. Guru yang lain bahkan menegur di depan kelas sehingga teman temannya melihat dan mendengar teguran yang diberikan kepada adik saya,” jelas DN.

“Teguran dari guru-guru tersebut yang membuat adik saya tertekan dan menjadi tidak nyaman untuk sekolah,” sambung DN.

“Bahkan, suatu hari ada chat WA adik saya kepada saya ‘Kakak udah ngomong ke sekolah aku soal kerudung’ dan ‘Kak aku takut ditegur lagi sama gurunya’, jika sudah ada statement seperti ini kan berarti adik saya sudah merasa tertekan,” pungkas DN.