Kutip Hadis Soal Wafatnya Ulama, Ma’ruf Amin Tak Bermaksud Merendahkan Siapapun

Kutip Hadis Soal Wafatnya Ulama, Ma’ruf Amin Tak Bermaksud Merendahkan Siapapun

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Pernyataan Wapres KH Ma’ruf Amin terkait wafatnya ulama dengan mengilustrasikan perbandingan wafatnya satu kabilah dengan satu orang kiyai, mendapat persepsi dan amplifikasi yang berbeda oleh sebagian netizen.

Jubir Wapres, Masduki Baidlowi pun menyampaikan klarifikasi. 

Masduki mengungkapkan, pernyataan Wapres tersebut mengutip hadis riwayat Al-Thabrani, dan bukan dengan intensi merendahkan siapapun. 

“Sekali lagi, itu kutipan hadis. Bukan pernyataan pribadi Wapres,” jelas Masduki dalam keterangan resmi yang diterima terkini.id.

Pernyataan wapres tersebut sebelumnya ramai di media sosial dan dimaknai berbeda oleh sebagian netizen.

Baca Juga

Berita terkait: Ma’ruf: Meninggalnya Satu Suku Itu Lebih Ringan daripada Meninggalnya Ulama

Lebih lanjut, Masduki menjelaskan, hadis tersebut dikutip dan diterjemahkan Wapres apa adanya, tanpa ditambah-tambahi. Namun, pengutipan hadis itu perlu dipahami dalam konteks sambutan Wapres lebih utuh. Konteksnya adalah untuk memberi gambaran tentang betapa dalamnya rasa kehilangan kita dengan wafatnya ulama. 

Momentum pernyataan itu, terang dia, saat Wapres tengah memberi apresiasi program Baznas bertajuk “Kita Jaga Kyai”. 

Kyai adalah sebutan untuk ulama di Indonesia. Ulama itu figur berilmu. Dalam sambutan itu, Wapres tidak membatasi ahli ilmu hanya pada bidang agama, tapi juga ilmuwan dan cendekiawan secara luas.

“Dalam beberapa bulan terakhir, banyak kyai, ulama, pengasuh pesantren, cendekiawan, ilmuwan Indonesia yang meninggal dunia,” kata Wapres Ma’ruf Amin. 

Karena dalam acara Baznas, yang mengelola dana sosial Islam, yakni zakat, infak dan sedekah, Wapres merujuk perspektif Islam tentang musibah wafatnya ilmuwan, para ahli ilmu, para alim, dan ulama. 

Wapres menguraikan peran penting ulama dalam tiga aspek: keagaman, peradaban, dan kebangsaan. Dari sisi keagamaan, ulama adalah pewaris para Nabi. Dari sisi peradaban, ulama berperan dalam transformasi ilmu dan peradaban. Dari sisi kebangsaan, ulama mengajarkan sikap patriotik, cinta tanah air, bela negara, dan perjuangan kemerdekaan.

“Para kyai dan ulama sebagai pewaris para Nabi telah mentransformasikan ilmu dan peradaban, menjaga, mendidik dan melakukan berbagai perbaikan di segala bidang,” kata Wapres.

“Para kyai dan ulama juga mengajarkan sikap patriotik, cinta tanah air (hubbul wathan) dan bela negara. Jasa dan peran besar para kyai, para ulama dan pondok pesantren terhadap perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa sangat besar. Tidak bisa dihargai dengan sekadar materi,” ungkap Wapres.

Untuk memperkuat narasi tersebut, Wapres mengutip hadis, yang lengkapnya: 

 مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ 

“Meninggalnya seorang ulama adalah musibah yang tak tergantikan, sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal, laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih ringan dari meninggalnya satu orang ulama.” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Nada dan intensi hadis itu bukan untuk merendahkan wafatnya orang satu kabilah. Kalimat itu perlu dipahami sebagai ungkapan ilustratif, kiasan, atau amtsal, untuk menghargai sosok ulama dan ilmuwan di tengah masyarakat. 

Wafatnya orang satu suku atau satu kabilah jelas sebuah musibah besar, sebuah kehilangan besar, dan wafatnya seorang ulama adalah musibah yang jauh lebih besar. Demikian pemaknaannya. Jadi, sama sekali bukan untuk merendahkan peristiwa wafatnya orang satu suku. 

Jangankan kehilangan nyawa satu suku, dalam Islam, kehilangan satu nyawa saja adalah sebuah catatan serius. Tidak mungkin direndahkan. Maka satu dari lima tujuan utama syariah atau maqashidus syari’ah adalah menjaga jiwa (hifdhun nafs). 

“Surat Al Maidah ayat 32 menyatakan, siapa yang membunuh satu orang secara tidak sah, setara dengan membunuh seluruh manusia, terang Masduki lagi.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.