Oleh: Dr. dr. Dewi Setiawati, Sp.OG., M.Kes
Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi (Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar)
Ada anggapan bahwa tugas seorang dokter adalah menyembuhkan penyakit. Padahal, dalam kenyataannya, tidak semua yang datang ke ruang praktik membawa persoalan yang bisa diselesaikan dengan obat, tindakan operasi, atau prosedur medis.
Ada kalanya yang hadir justru kehilangan, duka, dan kenyataan hidup yang tak mampu diperbaiki oleh ilmu kedokteran.
Pengalaman itu kembali mengingatkan saya bahwa profesi dokter tidak hanya dituntut menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk tetap hadir sebagai manusia di hadapan manusia lain.
- Asfar Haramain Internasional Hadir di Jakarta, Sediakan Layanan Perhotelan hingga Visa untuk Travel Umrah dan Haji
- Penyaluran LPG 3 Kg di Pinrang Dipastikan Normal, Pertamina Patra Niaga Sulawesi Tambah Pasokan 18.480 Tabung
- Kalla Run 10K Segera Digelar, Rute Lebih Presisi dan Tersertifikasi Kelas Dunia
- Atasi Krisis Air Bersih, PLN Peduli dan Human Initiative Hadirkan PLN SEJUK di Jeneponto
- Aplikasi Sipakatau Diluncurkan, Pengawasan Kualitas Air Minum di Makassar Menuju Era Digital
Suatu sore, seorang perempuan berusia 37 tahun datang sendirian ke ruang praktik. Kehamilannya telah memasuki usia 12 minggu, sebuah kehamilan yang telah ia nantikan selama tujuh tahun pernikahan. Dengan suara lirih ia mengaku mengalami perdarahan hebat sejak malam sebelumnya.
Pemeriksaan ultrasonografi segera dilakukan. Saya berharap hasil yang terlihat di layar monitor adalah kesalahan.
Transduser saya gerakkan berulang kali, mencari kantong kehamilan yang semestinya masih ada. Namun kenyataannya tidak berubah.
Kehamilan itu telah berakhir.
Bagi seorang dokter, menyampaikan diagnosis sering kali jauh lebih sulit daripada menegakkan diagnosis itu sendiri.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
