Oleh: Dr. dr. Dewi Setiawati, Sp.OG., M.Kes
Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi (Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar)
Ada anggapan bahwa tugas seorang dokter adalah menyembuhkan penyakit. Padahal, dalam kenyataannya, tidak semua yang datang ke ruang praktik membawa persoalan yang bisa diselesaikan dengan obat, tindakan operasi, atau prosedur medis.
Ada kalanya yang hadir justru kehilangan, duka, dan kenyataan hidup yang tak mampu diperbaiki oleh ilmu kedokteran.
Pengalaman itu kembali mengingatkan saya bahwa profesi dokter tidak hanya dituntut menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk tetap hadir sebagai manusia di hadapan manusia lain.
- Rekor Head to Head Argentina vs Spanyol Jelang Final Piala Dunia 2026
- Setelah Keluarga Besar Husniah, Kini Giliran Majelis Pemangku Adat Kerajaan Gowa Dukung Pansus Hak Angket
- KONI Makassar Bantah Tuduhan LSM Soal Dana Hibah, Auditor Siap Tempuh Jalur Hukum
- Isu Dugaan Perselingkuhan Bupati Gowa Makin Meluas, Jadi Sorotan Akun Viral dan Media Nasional
- Terpilih Pimpin PSTI Makassar, Ali Gauli Arief Siap Cetak Atlet Takraw Berprestasi
Suatu sore, seorang perempuan berusia 37 tahun datang sendirian ke ruang praktik. Kehamilannya telah memasuki usia 12 minggu, sebuah kehamilan yang telah ia nantikan selama tujuh tahun pernikahan. Dengan suara lirih ia mengaku mengalami perdarahan hebat sejak malam sebelumnya.
Pemeriksaan ultrasonografi segera dilakukan. Saya berharap hasil yang terlihat di layar monitor adalah kesalahan.
Transduser saya gerakkan berulang kali, mencari kantong kehamilan yang semestinya masih ada. Namun kenyataannya tidak berubah.
Kehamilan itu telah berakhir.
Bagi seorang dokter, menyampaikan diagnosis sering kali jauh lebih sulit daripada menegakkan diagnosis itu sendiri.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
