Luka yang Tak Terjahit

Luka yang Tak Terjahit

EP
Dr. dr. Dewi Setiawati, Sp.OG., M.Kes.
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Tidak ada buku kuliah yang benar-benar mengajarkan bagaimana mengucapkan kalimat yang akan mengubah hidup seseorang dalam hitungan detik.

Saya akhirnya berkata pelan bahwa kehamilan tersebut tidak lagi dapat dipertahankan.

Perempuan itu tidak menangis. Ia hanya memejamkan mata.

Kesedihan memang tidak selalu hadir dalam bentuk air mata. Kadang ia memilih diam sebagai bahasanya.

Setelah menjelaskan kondisi medis dan perlunya tindakan kuretase untuk mencegah komplikasi, saya bertanya seperti biasanya.

Baca Juga

“Apakah suami Ibu ada? Saya ingin menjelaskan semuanya kepada beliau.”

Jawaban yang saya terima membuat ruang praktik mendadak terasa lebih sunyi.

“Suami saya meninggal dua minggu yang lalu, Dok.”

Saat itu saya menyadari bahwa perempuan ini bukan hanya kehilangan janinnya. Ia baru saja kehilangan pendamping hidupnya.

Dalam waktu yang sangat singkat, ia harus merelakan dua cinta sekaligus: suami yang menemaninya selama bertahun-tahun menjalani penantian, dan bayi yang menjadi harapan dari penantian tersebut.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.