Tidak ada buku kuliah yang benar-benar mengajarkan bagaimana mengucapkan kalimat yang akan mengubah hidup seseorang dalam hitungan detik.
Saya akhirnya berkata pelan bahwa kehamilan tersebut tidak lagi dapat dipertahankan.
Perempuan itu tidak menangis. Ia hanya memejamkan mata.
Kesedihan memang tidak selalu hadir dalam bentuk air mata. Kadang ia memilih diam sebagai bahasanya.
Setelah menjelaskan kondisi medis dan perlunya tindakan kuretase untuk mencegah komplikasi, saya bertanya seperti biasanya.
- Rekor Head to Head Argentina vs Spanyol Jelang Final Piala Dunia 2026
- Setelah Keluarga Besar Husniah, Kini Giliran Majelis Pemangku Adat Kerajaan Gowa Dukung Pansus Hak Angket
- KONI Makassar Bantah Tuduhan LSM Soal Dana Hibah, Auditor Siap Tempuh Jalur Hukum
- Isu Dugaan Perselingkuhan Bupati Gowa Makin Meluas, Jadi Sorotan Akun Viral dan Media Nasional
- Terpilih Pimpin PSTI Makassar, Ali Gauli Arief Siap Cetak Atlet Takraw Berprestasi
“Apakah suami Ibu ada? Saya ingin menjelaskan semuanya kepada beliau.”
Jawaban yang saya terima membuat ruang praktik mendadak terasa lebih sunyi.
“Suami saya meninggal dua minggu yang lalu, Dok.”
Saat itu saya menyadari bahwa perempuan ini bukan hanya kehilangan janinnya. Ia baru saja kehilangan pendamping hidupnya.
Dalam waktu yang sangat singkat, ia harus merelakan dua cinta sekaligus: suami yang menemaninya selama bertahun-tahun menjalani penantian, dan bayi yang menjadi harapan dari penantian tersebut.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
