Macan “Ballorang”

Laga PSM Makassar vs Persija Jakarta ditunda

AKSI pendukung fanatik PSM Makassar yang meneror Persija Jakarta, langsung membuat nyali tkm Macan Kemayoran, ciut. Saking takutnya, mereka langsung menunda bertanding.

Padahal, sesuai jadwal, leg kedua Liga Indonesia ini, digelar di Stadion Mattoanging, Makassar, Minggu sore, 28 Juli 2019.

Baru kali ini saya melihat tim sepakbola langsung keder gara-gara teror pendukung tuan rumah. Makanya, saya terkejut. Saya tidak menyangka Persija jadi “ballorang” (penakut).

Yang bikin kian heran, Persija ini bukan tim kacangan. Bukan pula tim “kemarin sore”. Mereka selalu diidentikkan tim elite, dihuni pemain bintang, pernah juara, dan tim langganan papan atas liga tanah air.

Wow, khan? Hehe..

Memang, segala aksi teror tidak pernah dibenarkan. Namun, sepanjang teror itu tidak sampai melukai fisik pemain, itu masih bisa ditolerir.

Kalau terornya cuma teriak-teriak, memukul-mukul dinding bus pemain, dan melempari kaca bus, itu dianggap wajar-wajar saja. Tujuannya, untuk meruntuhkan mental tim tamu. Di Liga Eropa pun sering seperti ini.

***
Sependek yang saya ingat, selama hampir 10 tahun meliput PSM di laga away, tim berjuluk Ayam Jantan dari Timur, ini mungkin kenyang diteror tuan rumah. Hampir di semua partai tandang, PSM diperlakuan seperti itu.

Bus pemain PSM tidak hanya digebuk-gebuk oleh suporter tuan rumah saat masuk stadion. Tapi juga, saat bus melaju di jalan raya, bus PSM biasa dilempari batu dan telur.

Sambil konvoi naik motor, mereka teriak-teriak dan melontarkan makian. Tujuannya apa? Ya, supaya semangat pemain PSM melempem.

Belum lagi teror-teror saat PSM akan menggelar latihan pagi atau sore, sekaligus uji coba stadion, yang bakal dipakai bertanding. Pasti ada-ada saja gangguannya.

Itu saja? Tentu tidak. Hotel tempat pemain dan ofisial tim menginap, seringkali pula menjadi sasaran teror. Kadang-kadang, ada yang teriak-teriak dari luar hotel dengan kata-kata mengancam.

Bahkan, saya masih ingat, saat PSM bertanding melawan Barito Putra di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pendukung tuan rumah tidak hanya melempari pemain PSM dengan kerikil dan air gelas mineral, tetapi juga beling (pecahan kaca). Ihhh.. Ngeri.

Itu kalau pertandingan reguler. Nah, lain lagi teror yang dialami PSM ketika lolos Delapan Besar (sistem setengah kompetisi) Wilayah Timur.

Biasanya, babak delapan besar diadakan di dua tempat; Senayan (GBK Bunga Karno) dan markas Persija di Lebak Bulus. Pernah pula diadakan di Gresik, Jawa Timur, untuk mengantisipasi perkelahian antarsuporter.

Kalau sudah begini, yakinlah. Bukan hanya pemain yang diteror, tetapi juga suporter PSM.

Yang bikin terharu, suporter fanatik PSM yang datang ke Jakarta, tak sudi tim kesayangannya diteror, apalagi diperlakukan kurang terpuji.

Maka, sudah pasti, mereka akan membalas perlakuan suporter lawan dengan teror dibalas teror. Ujung-ujungnya, dan ini seringkali terjadi, mereka bentrok.

***
Setelah mendapat perlakuan seperti itu, apakah PSM lantas menjadi takut? Apakah PSM mo’jo, serta menolak dan menunda bertanding?

Tidaklah. PSM bukan tim seperti itu!

Itulah mengapa filosofi Ayam Jantan dari Timur dilekatkan pada julukan PSM. Ini bukan sekadar julukan asal comot saja.

Di balik makna julukan tersebut, terbentang pula tentang identitas masa silam orang Sulsel, yang pemberani dan heroik.

Ketika sudah siap bertempur, mereka siap pula menanggung segala risiko. Terserah, apakah hasilnya nanti kalah, seri, atau menang. Ibarat pelaut ulung Sulsel, “Sekali layar berkembang, pantang biduk surut ke pantai.”

Saya yakin, PSM tak bakalan menunda pertandingannya, lantaran teror tim tamu.

Akh, Persija-Persija. Cemen loe! 😀😁

Berita Terkait
Komentar
Terkini