Mahfud MD Tanggapi Ujaran SARA Rektor ITK Budi Santosa

Mahfud MD Tanggapi Ujaran SARA Rektor ITK Budi Santosa

R
Rima Anhar
Redaksi

Tim Redaksi

 Terkini.id, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI (Menko Polhukam), Mahfud MD, menanggapi ujaran SARA Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Budi Santosa Purwokartiko. Menurutnya, sangat salah menyebut perempuan berhijab dengan istilah “manusia gurun”.

Ia juga mengungkapkan bahwa model pakaian merupakan produk budaya yang beragam, sehingga tidak harus memakai cadar atau gamis.

Hal itu ia sampaikan dalam cuitan akun Twitter pribadinya pada Minggu, 1 Mei 2022.

“Pakaian yang Islami itu adalah niat menutup aurat dan sopan; modelnya bisa beragam, tak harus pakai cadar atau gamis. Model pakaian adalah produk budaya. Maka itu menuduh orang pakai penutup kepala seperti jilbab ala Indonesia, Melayu, Jawa, dll sebagai manusia gurun adalah salah besar,” tulisnya.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, ia juga menyebut bahwa ujaran Budi mengenai penutup kepala atau hijab yang disebutnya sebagai “manusia gurun” itu tidak bijaksana.

Baca Juga

“Memuji-muji sebagai mahasiswi hebat hanya karena mereka tidak memakai kata-kata agamis, ‘InsyaAllah qadarallah, syiar’ sebagaimana ditulis oleh Rektor ITK itu juga tidak bijaksana. Itu adalah kata-kata yang baik bagi orang beriman, sama dengan ucapan Puji Tuhan, Haleluya, Kersaning Allah, dll,” cuit Mahfud MD.

Sebelumnya, Budi Santosa memberikan komentar negatif terhadap perempuan berhijab yang ia lontarkan di status Facebook miliknya pada Rabu, 27 April 2022, saat menceritakan pengalamannya mewawancarai peserta beasiswa program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Salah satunya, terkait pernyataan bahwa ke-12 mahasiswa yang tidak berhijab itu dianggapnya sebagai orang yang open-minded.

“12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutupi kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open minded. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa Barat, dan US, bukan ke negara-negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi,” tulisnya.

Menanggapi hal tersebut, Mahfud mengatakan bahwa perempuan yang berhijab pun juga pandai dan dapat bertoleransi serta meramu keislaman dan keindonesiaan dalam nasionalisme dengan mencontohkan beberapa tokoh seperti dosen atau profesor di kampus besar, dan pemimpin Pertama serta BPOM.

“Sejak tahun 1990-an, banyak sekali professor-profesor di kampus besar seperti UI, ITB, UGM, IPB, dll yang tadinya tidak berjilbab menjadi berjilbab. Ibu Dirut Pertamina dan Kepala Badan POM juga berjilbab. Mereka juga pandai-pandai tapi toleran, meramu keislaman dan keindonesiaan dalam nasionalisme yang ramah,” jelasnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.