Mati Keracunan karena Makan Kentang? Begini Penjelasan Sains

Terkini.id, Jakarta – Sebuah postingan tentang seorang anak kecil di China tewas setelah mengonsumsi kentang goreng, banyak menjadi perbincangan di media sosial.

Informasi tersebut misalnya tersebar di grup whatsapp.

Diceritakan, seorang nenek yang tinggal di pedesaan China, membuatkan camilan kesukaan cucunya yakni kentang goreng.

Setelah memakan kentang tersebut, cucunya yang berusia 5 tahun kemudian tergeletak dan meninggal dunia.

Setelah diotopsi, anak tersebut diketahui meninggal karena keracunan kentang.

Benarkan kentang bisa membuat kita keracunan?

Dilansir dari berbagai sumber, kentang memang bisa mengandung racun. Salah satu ciri-cirinya adalah saat kentang tersebut berwarna hijau dan bertunas.

Dalam kondisi seperti itu, kentang bisa jadi mengandung senyawa kimia glycoalkaloids atau solanin yang merupakan racun.

Dilansir dari warstek.com,
kentang yang berubah warna menjadi hijau berbahaya dan beracun meskipun sudah diolah.

Kentang yang berubah warna menjadi hijau atau yang telah bertunas ternyata mengandung senyawa kimia glycoalkaloids.

Glycoalkaloids sendiri merupakan zat yang secara alami dihasilkan oleh tanaman yan berasal dari family Solanecae seperti kentang, terung, cabe dan sebagainya. Namun zat ini bersifat racun apabila di konsumsi dengan konsentrasi tinggi.

Glycoalkaloids pada tanaman dari family Solanecae lebih dikenal dengan sebutan Solanin.

Kentang secara alami memproduksi glycoalkolids (solanine) sebagai pertahanan diri untuk melawan pemangsa seperti serangga dan hewan pemakan tumbuhan lainya.

Berikut kandungan glycoalkaloids pada beberapa bagian kentang yang dilansir oleh nutritionmyths.com:

Kentang utuh (4,3-9,7 mg/100g)
Daging kentang (1,25-5 mg/100g)
Kulit (15-30 mg/100g)
Kentang beracun ( bewarna hijau atau terasa pahit) (25-80mg/100g)
Kulit kentang yang beracun (150-220mg/100g).

Konsentrasi glycoalkaloids (solanine) tersebut meningkat seiring dengan bertambahnya paparan cahaya dan suhu yang hangat.

Semakin kentang terpapar cahaya dan suhu semakin hangat, maka konsentrasi glycoalkaloids ini akan semakin meningkat juga.

Warna hijau pada kentang mengindikasikan bahwa kentang telah memproduksi klorofil dan siap untuk bertunas, namun ternyata warna hijau ini juga mengindikasikan bahwa kentang juga mengandung glycoalkolids (solanine) yang tinggi.

Tetap Beracun Meski Sudah Dimasak

Glycoalkolids (solanine) pada kentang hijau tidak hancur meskipun telah melalui proses pengolahan atau dimasak.

Menurut badan kesehatan kanada dalam canada.ca, batas maksimum kandungan glycoalkaloids atau solanine dalam kentang yang boleh dikomsumsi adalah 20 mg dari 100 gram kentang segar.

Menurut sebuah studi, gejala keracunan muncul pada dosis 2-5 mg/kg berat badan dengan dosis mematikan pada dosis 3-6 mg/kg berat badan [3]. Gejala keracunan ringan paling cepat muncul dalam waktu beberapa menit hingga 2 hari setelah mengkonsumsi kentang yang kaya solanine.

Cepat atau lambat kemunculan gejala tergantung pada sensivitas individu terhadap solanine dan dosis solanine yang tertelan.

Menurut Helmenstine dalam thoughtco.com gejala keracunan yang muncul dapat berupa kram perut, mual, tenggorokan terbakar, sakit kepala, pusing, dan diare, disritmia jantung, halusinasi, perubahan penglihatan, napas yang melambat, demam, sakit kuning, hipotermia, kehilangan sensasi, pupil membesar bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Berita Terkait
Komentar
Terkini