Memahami Pola dan Tahap Perkembangan Sebuah Koalisi Politik

PARA anggota Kabinet Indonesia Maju adalah adalah sebuah koalisi, yang terdiri atas orang-orang pilihan yang diduga dapat diandalkan, menuju Indonesia Baru.

Menurut teori, perkembangan kinerja Kabinet Indonesia Maju dapat terjadi menurut pola tersebut di bawah ini.

Pertama, kabinet telah terbentuk. Itulah tahap awalnya yang dinamakan tahap “forming.”
Anggota koalisi adalah orang pilihan, yaitu orang yang diharapkan aktif memecahkan masalah dengan pola pikir “out of the box thinking.”

Itulah kelebihannya, yang sekaligus juga dapat menghasilkan kelemahannya.

Di mana orang aktif berpikir, di sana ada peluang terjadinya perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat melahirkan tahap adu pendapat yang dinamakan “storming.” Inilah tahap kedua perkembangan koalisi.

Menarik untuk Anda:

Dengan itikad baik, adu pendapat dapat berlanjut ke tahap perkembangan ketiga, yaitu “norming.”

Terjadi kesepakatan tentang bagaimana kerja selanjutnya antara para anggota koalisi.

Dalam perjalanan waktu, tahap “norming” akan berlanjut ke tahap keempat, yaitu: “performing.” Koalisi berkinerja, yang menghasilkan percaya diri untuk keberlanjutan kerjasama koalisi.
Tahap ini berpeluang menghasilkan “percaya diri yang mengarah ke tutup diri” terhadap pendapat lain yang berbeda, dari luar kementerian sendiri dan dari luar koalisi.

Ada peluang terjadinya gejala “group think,” yaitu: percaya diri dan menutup diri. Apa yang dapat dilakukan pada tahap ini?

Sebuah pilihannya ialah: “bongkar-pasang.”

Ada anggota yang dilengserkan, digantikan dengan yang baru.
Kemungkinan ini sudah dikatakan oleh Presiden Joko Widodo pada saat pidatonya yang pertama, 20 Oktober 2019.

Akhirnya, dengan segala suka-dukanya, kabinet dibubarkan pada tahap yang dinamakan “mourning,” yaitu tahap ketika mana para anggota kabinet mengenangkan suka-dukanya, lalu dibubarkan. Buku ditutup.

Di samping perkembangan internal, ada juga perkembangan yang terjadi di luar kabinet. Di luar sana paling kurang ada empat kelompok warga NKRI. Kelompok pertama adalah mereka yang merasa dirinya pantas dilamar, tetapi tidak dilamar.
Ada pula kelompok kedua yang, karena tidak kenal, belum percaya tentang kemampuan kerja para anggota kabinet.

Ketiga, ada kelompok yang berpendapat bahwa kabinet ini perlu didukung usahanya untuk melakukan yang terbaik, yang dapat dilakukannya, untuk kemajuan NKRI. Keempat, ada kelompok acuh-tak-acuh.

Renungan: Di mana posisiku dan apa sumbanganku untuk kemajuan NKRI dalam kurun waktu lima tahun mendatang?

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Money Politik, Diantara Larangan dan “Kebutuhan” Warga

Ketauladanan Ibrahim AS – 01

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar