Resolusi untuk Mereka yang Kalah

Resolusi untuk Mereka yang Kalah

HZ
Wim Poli
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

MARAH, sedih, dan tertawa adalah tiga gejala yang lumrah dialami setiap orang dalam perjalanan hidupnya.

Sepanjang sejarah para ilmuwan telah berusaha memahami penyebab dari tiga gejala ini.

Lahirlah berbagai teori yang berbeda-beda. Antara lain, katanya, ketiga gejala itu muncul karena adanya kesadaran orang tentang kesenjangan antara apa yang diinginkan dan kenyataan yang dihadapinya.

Misalnya, tidak terpenuhinya keinginan seseorang untuk menjadi pemenang dalam pertandingan tinju.

Orang jenis pertama marah dan menyalahkan orang lain tentang sebab kekalahannya, bukan dirinya. Misalnya, juri tidak adil atau pelatihnya tidak becus.

Orang jenis kedua menjadi sedih, patah semangat dan berhenti dari pertandingan tinju.

Orang jenis ketiga dengan santai menertawai diri sendiri, mengakui kekurangan dan kesalahannya, dan bertekad menjadi lebih baik di kemudian hari.

Dia belajar dan berkembang menjadi manusia rasional dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dengan gembira.

Kata Albert Schweitzer, kegembiraan adalah kunci keberhasilan, bukan sebaliknya.

Perbedaan tanggapan ketiga jenis orang tersebut berasal-usul dari masa lalu yang berbeda.

Pertama, ada warisan biologis tertentu yang diwarisi dari ibu-bapak. Kedua, ada warisan sosiologis tertentu, yaitu hasil proses sosialisasi dan inkulturasi yang dialami seseorang di lingkungannya, khususnya pada usia dini.

Ketiga, ada pengalaman khusus yang menguatkan atau melemahkan kedua unsur yang pertama, sehingga orang menjadi ada sebagaimana adanya, entah disadarinya atau tidak.

Renungan: Apa pengalamanku dan apa resolusiku untuk membentuk generasi masa depan yang rasional dan mandiri dalam mengatasi kesulitannya?

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.