KITA mengetahui bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh dengan ragam kebaikan dan manfaat.
Berbagai kebaikan atau manfaat itu tersimpulkan dalam satu kata “barokah”.
Bahwa bulan Ramadan adalah bulan barokah yang dimaknai sebagai “azziyadatu fil khaer” (bertambahnya kebaikan). Sehingga seringkali keberkahan-keberkahan atau nilai tambah itu hanya dimaknai secara terbatas pada aspek ritual.
Sehingga kepedulian mayoritas Umat tertuju pada ragam ritual, dari puasa itu sendiri, tarawih, hingga ke dzikir dan bacaan Alquran dengan tujuan mengumpulkan pahala.
Hitung-hitungan pun terjadi. Saya melakukan sholat malam dengan ikhlas. Insya Allah dosa saya dihapuskan oleh Allah setahun lalu.
Atau saya telah menyelesaikan bacaan Alquran saya sekian juz dengan jumlah huruf sekian. Pahala dari bacaan saya sudah sekian.
Tendensi hitung-hitungan seperti ini bisa keliru bahkan berakibat pada terbangunnya sikap yang kurang etis kepada Allah SWT.
Benar ada kata “isytara” (transaksi antara Allah dan hamba) sebagai penggambaran komitmen ketaatan seorang hamba pada Tuhannya. Tapi itu tidak dimaksudkan sebagai kalkulasi-kalkulasi yang harus terjadi antara hamba dan Tuhannya.
Keberkahan Ramadan hendaknya dipahami dengan makna yang lebih luas dan komprehensif.
Bahwa Ramadan adalah bulan berbagai ritual yang pahalanya dilipat gandakan itu pasti.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
