Minyak Tumpah, Nelayan di Parepare Tolak Bantuan Ganti Rugi Pertamina

Pertamina
Rapat dengar pendapat Komisi III DPRD kota Parepare dengan Pertamina

Terkini.id, Parepare – Pertamina telah menyalurkan dana ganti rugi tumpahan minyak yang terjadi pada Januari 2019, lalu.

Ganti rugi tersebut berupa barang disalurkan kepada kelompok nelayan yang berada di ring satu yakni Keluarahan Lakessi dan Watang Soreang, Kota Parepare.

Namun, saat penyaluran bantuan tersebut beberapa kelompok nelayan justru menolak bantuan yang diberikan Pertamina.

Ketua kelompok nelayan Si Pakkamase II Cempae, Sabbang, menyampaikan alasan dirinya dan teman kelompoknya tidak menerima bantuan tersebut, karena Pertamina tidak memenuhi apa yang ada di di dalam porposal.

“Bukan tidak dikasih yah, tapi saya tolak karena cuma peti yang diberikan sementara yang kami butuhkan itu puka melenium, itu juga tidak sesuai dengan apa yang proposal di ajukan. Mereka (Pertamina) beralasan anggarannya tidak cukup,” kata Sabbang, saat ditemui di rumahnya, Jumat 2 Agustus 2019.

Tidak hanya itu, Sabbang, juga mengungkapkan, dana yang digelontorkan Pertamina hanya Rp 5 juta per kelompok nelayan.

Sedangkan, kelompok nelayan yang berada di Kelurahan Watang Soreang ada 12 kelompok, jumlahnya sama dengan ada yang di Kelurahan Lakessi.

“Iya untuk satu kelompok Rp 5 juta, berarti untuk satu anggotanya hanya Rp 500 ribu, karena kita di dalam satu kelompok itu ada 10 orang,” ungkapnya.

Sebelumnya, saat rapat dengar pendapat bersama Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Parepare dengan Pertamina, dana yang akan disalurkan Pertamina sebesar Rp 180 juta untuk masyarakat terdampak langsung dari tumpahan minyak pada dua kelurahan tersebut.

Padahal, pasca kejadian tumpahan minyak, Pertamina menjanjikan dana CSR atas tumpahan minyak sebesar Rp 3 miliar.

Senada dengan Sabbang, Ketua Kelompok nelayan Si Pakkamase I Cempae, Asri Guntur, juga menyampaikan rasa kekecewaannya kepada Pertamina yang ingin memberikan bantuan kepada rekan seprofesinya.

“Jujur, ini sebenarnya bantuan pertama kali yang di berikan Pertamina. Kalau Rp 500 ribu per orang untuk apa, beli peralatan saja tidak cukup, apa lagi beli perahu, makanya saya tolak. Meraka sudah ingkar janji, sekalian tidak usah berikan bantuan,” ujar Asri.

Asri juga meminta bantuan kepada pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Parepare agar mengawal terus hal ini.

Asri menuturkan, pada saat tumpahan minyak tersebut, hampir setengah bulan dirinya dan beberapa nelayan yang lain tidak melaut dan perolehanya turun hingga 50 persen.

“Iya pak, kan saya dapat tumpahannya subuh, hampir 30 jeriken minyak dari sana saya ambil. Hampir 50 persen perolehan kami turun. Maka dari itu, kami meminta DPRD Parepare terus perjuangkan ini masalah,” tuturnya.

Meski beberapa kelompok nelayan yang menolak, namun ada juga yang menerima. Nelayan yang diberikan bantuan berupa lima jala atau jaring dengan harga Rp 80 ribu.

Merespon hal tersebut, Ketua Komisi III DPRD Parepare, Iqbal Chalik, menyampaikan bahwa DPRD Parepare sangat kecewa akan jumlah dana yang disalurkan tersebut.

“Kami DPRD sangat kecewa akan hal teserbut, kami tetap menuntut pertamina memenuhi janji sesuai pernyataan Dirut Pertamina pusat saat RDP di DPR RI lalu,” tegasnya.

Dirinya juga berinisiatif akan kembali melakukan RDP dengan nelayan, dan Pertamina dalam membahas hal tersebut.

“Kami sudah sampaikan ke Pimpinan Komisi 7 DPR RI dan segera menindaklanjuti hal tersebut, kemudian saya akan bicarakan di internal komisi untuk mengundang nelayan,” lanjutnya.

Saat dikonfirmasi mengenai hal itu, pihak Pertamina masih susah untuk dihubungi, seakan tidak ingin berkomentar mengenai hal tersebut.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
News

Cerita Saut Situmorang yang Batal Mundur dari KPK

Terkini.id, Jakarta - Saut Situmorang sebelumnya ramai dibicarakan lantaran mengundurkan diri dari posisinya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kini, Saut menerangkan bahwa dirinya tidak mengundurkan diri.