Muhammad Ismak Taklukan Jakarta Dengan Modal Rp500 Ribu, Sekarang Pulang Kampung Maju di Pilwalkot Makassar

Muhammad Ismak

Terkini.id — Muhammad Ismak adalah salah satu dari sedikit yang memperoleh pengesahan sebagai kurator yang berkantor di Jakarta.

Sejak lulus kuliah di Universitas Hasanuddin tak pernah terbersit, Ismak akan menjadi pengacara kesohor di Ibukota. Hidupnya masih saja mengalir

Karena beberapa teman sepermainan dan kuliahnya satu per satu hijrah ke kota Jakarta, Ismak pun ikut hijrah. Ibu yang sedikit cemas agak berat melepas putra ketiganya ini.

“Ibu sempat bertanya bagaimana hidup saya nanti di Jakarta, saya bilang ya dilihat nanti hehehe,” ungkap pengacara yang hobi naik sepeda ini.

Tapi penyuka musik jazz ini pun tetap berangkat menggunakan kapal laut. Tanpa tujuan yang jelas sebenarnya.

Menarik untuk Anda:

Tibalah dia di kota Batavia itu. Dengan bekal Rp 500 ribu di kantongnya ia masih belum tahu akan melakukan apa.

“Setahun lebih saya hanya main saja di Jakarta kadang ke Bandung daerah sekitar,” ujar Ismak.

Jalan Bangka menjadi tempat penampungan pertamanya memulai kehidupan di Jakarta. Rumah di Bangka ini sudah menjadi semacam ‘base camp’ anak anak Makassar di kota Jakarta.

Hingga sebuah kejadian kecelakaan yang sempat menimpa penghuni rumah di Jalan Bangka yang menyebabkan tiga orang diantaranya meninggal dunia membuat tempat ngumpul di Bangka ini akhirnya bubar.

Usai kejadian itu Ismak mulai ikut-ikut ajak kan teman untuk bekerja menangani kasus. Terutama sejak diajak oleh Hakim Kamaruddin, politisi partai Golkar.

“Jadi yang mengajak saya pertama kali kerja di kantor hukum itu ya Hakim Kamaruddin, kami bertiga dengan satu lagi teman orang Medan,” kenang Ismak.

Kasus pertama yang ditanganinya sebelum reformasi itu adalah kasus gugatan ke perusahaan multinasional di bidang internet.

“Kasus ini termasuk besar sih untungnya berakhir damai, soalnya si hakimnya saja tidak paham apa itu internet di masa itu,” Ismak terbahak-bahak mengenang pekerjaan kasus yang ditangani awal itu.

Beberapa lama ia sempat bekerja di beberapa kantor hukum yang ada. Ia pun sempat mengikuti tes sertifikasi untuk kurator atau urusan kepailitan. Sebelumnya keahlian kurator ini hanya dilakukan oleh negara. Baru kemudian dibukalah kesempatan untuk keahlian tersebut.

“Saya lulus sertifikasi tersebut dan menjadi kurator, ini membuat saya semakin sering intens membahas masalah hukum dan bisnis terutama kepailitan pasar saham,” ungkap Ismak.

Ismak menganggap semua ini hanya mengalir saja sejak awal. Ia hanya tak berhenti untuk terus belajar mengembankan keahlian dan kemampuannya.

Pengakuan atas profesinya ini semakin cemerlang takkala Ismak didapuk dan terpilih sebagai Ketua Asosiasi Advokat Indonesia (AAI)periode 2015-2020.

Apalagi sejak 2002 ia sudah memiliki kantor hukum sendiri bernama Ismak Advocaten, berpusat di Jakarta. Tak terasa sudah ada lima generasi kader pengacara yang pernah bekerja di kantor hukumnya akhirnya membuka kantor hukum sendiri.

“Pengacara itu harus begitu, paling lamalah lima tahunan bekerja di kantor hukum lalu dia keluar dan buat kantor hukum sendiri. Itu namanya dia berkembang,” ungkapnya.

Tetapi pencapaian itu tidak membuat alumni Unhas dan UNPAD Bandung ini berhenti belajar. Ia terus mengembangkan diri dengan segala pengetahuan khususnya spesialis hukum yang ditangani seperti tentang dunia pasar saham.

Ia juga kerap mengunjungi kota-kota di luar negeri, seperti di eropa, Amerika atau pun Jepang. Ia kerap memperhatikan dengan seksama kota-kota dunia.

“Tokyo misalnya walaupun kota yang sibuk tapi kita jarang atau nyaris tak pernah mendengar kebisingan klakson kendaraan dan orang banyak yang ramai berjalan kaki ke kantor serta budayanya masih tercermin di dalam warganya walaupun tidak bisa disangkali orang Jepang sangat modern sebenarnya,” ujar Ismak.

Dari melihat bagaimana kota-kota dunia itu ditata dan mengatur warganya, yang kadang membuatnya resah melihat kota Makassar sebagai kota kelahirannya yang kerap ia pulang baik untuk urusan kerja maupun karena ia memang selalu rindu dengan kampung kelahirannya ini.

“Kalau saya pulang saya suka resah sendiri, bahwa pembangunan gedung dimana mana, infrastruktur di mana tapi kok saya merasa kota ini jadi semrawut juga terasa ada yang hilang, nilai nilai budaya seperti saling ngali-ngali’ (saling hormat) seolah tergerus,” ungkap Ketua IKA Unhas Jabodetabek ini.

Begitupun perbincangannya dengan sesama perantau dari Makassar di Ibukota yang tak luput mengamati situasi dan perkembangan kota yang berada di pesisir Sulsel ini.

Lalu terbersit lah untuk pulang kampung dan memberi sumbangsih. Basicnya seorang profesional sepertinya dibutuhkan untuk membenahi persoalan kota Makassar dengan tipikal sebagai kurator yang terbiasa mengerjakan untuk membereskan persoalan.

“Keinginan saya sederhana, bagaimana warga kota kembali memiliki kotanya dan bergembira tinggal di kotanya,”ungkap Ismak.

Tantangannya sekaligus keuntungan nya, ia bukan pemain lama politik di kota ini. Ia juga tidak memiliki paradigma menyelesaikan urusan politik dengan materi semata.

“Saya tidak menafikan kalau proses politik itu butuh uang. Tetapi kalau dasarnya semata kapital hanya akan menciptakan siklus politik transaksional semata. Saya mau berdasarkan gagasan. Apa ide kita untuk memimpin kota ini.” Jelas Ismak.

Ia juga menambahkan, sebagai profesional ia tak kaku dan harus alergi dengan partai politik dan politik itu sendiri. Ismak mengaku membangun komunikasi ke partai ataupun tokoh politik.

“Gagasan itu harus dikomunikasikan, nah saya kerap berkomunikasi dengan orang partai ataupun partai belakangan ini. Tapi bukan cuma itu saya juga menyerap dari beberapa kelompok masyarakat yang ada,” bebernya.

Ia juga membuka diri untuk bergerak bersama dalam satu gagasan yang sama atau gagasan yang bisa disharingkan.

“Pokoknya ikhtiar saya memberikan sumbangsih kepada kotaku,” tutup Ismak.

Berikut ini Data Data Diri:
Nama Lengkap: Muhammad Ismak, SH., MH.
Tempat/Tanggal Lahir: Makassar, 25 Januari 1969

Pendidikan:
SD Negeri Parangtambung (lulus 1981)
SMP Negeri 3 Makassar (lulus 1984)
SMA Negeri 2 Makassar (lulus 1987)
Fakultas Hukum Unhas (lulus 1991)
Pascasarjana Hukum UNPAD Bandung (lulus 2011)

Pekerjaan:
Paralegal : Kartakusuma & Partners, Jakarta 1997
Advokat : Kartakusuma & Partners, Jakarta 1998-2001
: Gunawan Widyaatmadja & Rekan, Jakarta 2001-2002
: Managing Partners/owner pada Kantor Hukum ISMAK ADVOCATEN, Jakarta 2002 – sekarang.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Terbukti Berpihak ke Pengembangan Keagamaan, Imam Masjid Ini Total SS-AK

Fatmawati Rusdi Jadikan Kampanye Sebagai Ajang Pemaparan Program

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar