Artinya bahwa ajaran Islam itu harus selalu menghasilkan pemikiran-pemikiran dan karya-karya inovatif yang diperlukan oleh zamannya, dan terjadi karena adanya wawasan antisipatif dan pro-aktif tadi.
Pro-aktif berarti bahwa Islam dan keilmuan Islam harusnya tidak lagi bersifat konvesional. Tapi justeru ada dobrakan yang bersifat aktif sebagai solusi dari masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan manusia.
Satu dari contoh yang saya selalu berikan adalah pemahaman tentang perintah Zakat. Bahwa perintah Zakat tidak difahami secara convensional dan pasif.
Dalam arti dipahami sebagai perintah mengeluarkan 2.5 persen dari harta kita.
Dengan pemahaman inovatif dan pro aktif, Zakat harus dipahami Sebagai perintah untuk memberdayakan atau menguatkan perekonomian Umat.
- Di Business Forum IGS 2026, Wali Kota Makassar Akan Tawarkan Peluang Investasi Strategis
- Bedah Buku Ajoeba Wartabone Hidupkan Kembali Semangat Perjuangan Tokoh Bangsa dari Indonesia Timur
- Welcome Dinner IGS 2026 di Fort Rotterdam, Wali Kota Munafri Ajak Delegasi 28 Negara Mengenal Potensi Makassar
- Munafri Arifuddin: Makassar Siap Jadi Gerbang Kerja Sama Internasional Kawasan Timur Indonesia
- Wakil Gubernur Dukung Perluasan Program RISE untuk Perkuat Sanitasi Berkelanjutan di Sulsel
Sebab hanya dengan perekonomian yang kuat Umat akan mampu memberikan Zakatnya.
Demikian pula ayat yang mengatakan “balik dari setiap kesulitan ada kemudahan”.
Ayat ini harus dipahami sebagai kewajiban bagi Umat ini untuk selalu menginisiasi upaya kemudahan di saat ada kesulitan.
Covid-19 misalnya menantang Umat ini untuk bangkit dan mencari solusinya. Bukan menunggu orang lain untuk menemukan solusi itu.
Ketiga, era baru itu juga berarti memasuki sebuah era dengan karakter dan prilaku yang baru.
Tentu karakter baru yang dimaksud adalah adanya perubahan karakter yang lebih positif.
Karakter yang dimaksud tidak saja pada tataran individual atau pribadi (fardi). Tapi juga tidak kalah pentingnya era baru ini merubah karakter sosial kemasyarakatan kita (social behaviors).
Kita mengharapkan musibah Covid 19 merubah pola prilaku lama yang semrawut, tidak disiplin, malas, lambang, dan ragam karakter yang menjadikan Umat ini terbelakang dan termarjinalkan.
Dari karakter yang kurang bisa mengontrol diri, mudah meledak, terbawa arus emosi lingkungan, dan lain-lain yang menjadikan umat ini mudah terjatuh ke dalam perangkap orang lain untuk dijadikan mangsanya.
Dengan era baru yang membawa perubahan itu Umat ini harusnya mampu membawa penyesuaian-penyesuaian yang tidak lagi biasa-biasa. Tapi membangun karakter responsive yang bersifat Ekstra ordinary.
Jika tidak maka Umat akan menjadi mainan bahkan korban dari perubahan-perubahan baru.
Umat akan berada dalam suasana kebingungan, lemah dan ketakutan, bahkan keputus asaan.
Intinya perlu perombakan karakter, baik pada tataran individu maupun pada tataran kolektif keumatan kita.
Keempat, memasuki era baru Umat dituntut untuk membangun wawasan global (global mindset).
Peristiwa Covid 19 mengharuskan Umat untuk sadar tentang dunia kita yang sangat berbeda.
Salah satunya menguatkan lagi bahwa dunia kita adalah dunia global yang unik dengan karakternya yang jauh berbeda.
Dunia global kita itu ditandai oleh banyak hal. Tiga di antaranya yang paling dominan; kecepatan (speed) ketergantungan (Interconnectedness), dan persaingan (competition).
Dengan kamajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang informasi, segala sesuatu mengalami kecepatan yang luar biasa.
Peristiwa di sebuah kampung terpencil di bumi Nusantara boleh jadi orang lain di bumi Amerika tahu pada waktu bersamaan.
Hal itu karena media informasi yang bersifat digital yang dapat diakses dalam kerlipan mata (blink of eyes).
Karena kecepatan informasi tersebut menjadikan dunia kita seolah semakin kecil.
Dunia ini seolah sebuah kampung kecil (small village) bersama manusia. Bahkan seolah rumah bersama (shared home) semua manusia.
Karenanya manusia mau tidak mau, sadar atau tidak, sesungguhnya memiliki ikatan ketergantungan yang sangat dekat.
Artinya tidak satu manusia atau kelompok manusia bisa hidup tanpa yang lain. Dan karenanya pilihan manusia hanya satu. Yaitu membangun kerjasama (partnership) dalam kepentingan bersamanya (common interest).
Dalam situasi ketergantungan itu pula masing-masing manusia atau kelompok manusia berusaha untuk menjadi yang terbaik, terkuat dan termaju.
Maka terjadilah kompetisi yang maha dahsyat di antara kelompok-kelompok manusia itu.
Maka Umat dipaksa untuk mengambil bagian dari kompetisi itu dan harus menang.
Atau menjadi penonton yang akhirnya hanya akan menjadi korban-korban kompetisi yang semakin dahsyat dan juga kejam.
Semua realita di atas sesungguhnya bukan barang baru dalam ajaran Islam.
Karena memang Islam adalah agama dengan konsep-Konsep universal. Tuhan, nabi, Kitab suci agama ini semuanya bersifat universal.
Tapi juga agama ini memang telah dipersiapkan untuk semua keadaan di atas.
Mungkin yang paling dekat menyimpulkan semua itu adalah ayat ke 13 dari Surah Al-Hujurat:
“Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki dan seorang wanita. Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia d antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Semoga musibah Corona atau Covid 19 memang mendatangkan “new normal”. Sesuatu yang baru dan lebih baik. Bukan sekedar kembali ke normal lama atau “old normal” seperti sebelum pandemi terjadi. Semoga!
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
