Ngeri! Duit Rp 8 Miliar Hasil Suap itu Disiapkan Bowo untuk ‘Serangan Fajar’

Terkini.id, Jakarta – Temuan-temuan mengejutkan terungkap dari peristiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) anggota Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Bowo Sidik Pangarso.

Uang hasil penerimaan suap yang disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebesar Rp 8 miliar rupanya disiapkan untuk money politics atau politik uang.

Bowo Sidik, rupanya menerima suap itu untuk melakukan ‘serangan fajar’ di daerah pemilihannya.

Baca Juga: Tujuh PNS Pemprov Diperiksa KPK di Polda Sulsel, Berkaitan Kasus...

Menariknya, duit Rp 8 miliar tersebut ditemukan dalam dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu yang telah dimasukan dalam 400 ribu amplop. Nah, 400 ribu amplop tersebut dimasukkan ke dalam 84 kardus.

Barang bukti berupa uang tunai dalam amplop dan kardus disita polisi. Duit tersebut diduga untuk serangan fajar.(suara)

Bowo Sidik pun mengakui hal itu kepada KPK. Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan mengungkapkan Bowo telah ditetapkan tersangka kasus suap kerja sama pengangkutan bidang pelayanan untuk kebutuhan distribusi pupuk PT Pupuk Indonesia Logistik menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Baca Juga: KPK Geledah Enam Titik di Makassar Selama Tiga Hari

Dari pengakuan Bowo, uang suap tersebut dikumpulkannya untuk biaya kampanye. Sebab, Bowo kembali maju sebagai caleg dari Dapil Jawa Tengah II.

“Mengumpulkan uang dari sejumlah penerimaan-penerimaan terkait jabatan yang dipersiapkan untuk ‘serangan fajar’ pada Pemllu 2019,” kata Basaria di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis 23 Maret 2019.

Dalam operasi tangkap tangan, tim penyidik ternyata menyita uang sebesar Rp 8 miliar dari kantor PT Inersia yang ternyata merupakan uang milik Bowo.

Baca Juga: Sekretarisnya Tersangka, Kantor Prof Rudy Djamaluddin Digeledah KPK

“Uang Rp 8 miliar dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu yang telah dimasukan dalam 400 ribu amplop pada 84 kardus. Dia (Bowo) mengatakan untuk logistik pencalonan dia sendiri sebagai anggota (DPR),” tutup Basaria seperti dilansir dari suara.

Sebagai penerima uang suap, Bowo Sidik dan Indung disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan Asty Winasti sebagai pemberi suap melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU No 31/1999 yang diubah dalam UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 64 ayat (1) ke-1 KUHP‎.

Sponsored by adnow
Bagikan