Terkini.id, Jakarta – Jerman telah mengubah sistem pertahanan dan kebijakan luar negerinya terkait perang Rusia Ukraina. Kanselir Olaf Scholz dinilai lebih banyak diam dan ragu-ragu untuk menolong kegentingan Ukraina.
Olaf Scholz telah menyampaikan pidato di DPR Jerman pada 27 Februari, tiga hari setelah Rusia memerangi Ukraina yang isi mengejutkan koalisinya.

Scholz membahasakan ‘Zeitenwende/ titik balik’, dia menjelaskan perubahan strategis terbesar dalam kebijakan keamanan, luar negeri, dan energi Jerman dalam sejarah republik federal.
Diwartakan sebelumnya, Jerman telah menolak izin operasi untuk Nord Stream 2, sebuah pipa seharga $11 miliar untuk membawa gas alam dari Rusia ke Jerman yang bertahun-tahun dibangun. Di situ sekutu telah lama memperingatkan ketergantungan Jerman pada Kremlin.
Kanselir yang disebut bersahaja, dalam dua bulan pertama menjabat tampaknya bersembunyi, kini mengumumkan rencana yang mengejutkan.
- Media Asing Sebut Putin Tidak Akan Hadir Dalam KTT G20
- Perdana Menteri Kanada Anggap Putin Telah Gagal Invasi Ukraina
- Fadli Zon ke Ukraina, Faizal Assegaf: Jangan Tiru yang Gagal Ntar Bikin Malu
- Gara-Gara Ledekan Negara Barat, Rusia Walk Out Dari G20 Bali
- Indonesia Desak Negara G20 Bantu Akhiri Perang di Ukraina
“Ini termasuk peningkatan pembelanjaan pertahanan Jerman dari 1,5% dari PDB menjadi target NATO sebesar 2%, pembentukan dana khusus €100bn ($110bn) untuk Bundeswehr (angkatan bersenjata Jerman), dan pembangunan dua fasilitas alam cair. terminal gas (lng) untuk mengurangi ketergantungan Jerman pada energi Rusia,” tulis Economist, Sabtu, 23 April 2022.
Diketahui, Mr. Scholz perlahan mundur dan tidak mendukung seruan untuk embargo atau tarif Jerman atau Eropa pada minyak dan gas Rusia.
Dan Jerman setiap hari membayar kepada Rusia sebanyak puluhan juta Euro untuk bahan bakar fosil, bahkan saat perang masih berlangsung.
Parahnya, Jerman menolak untuk memberi Ukraina senjata berat seperti tank. Padahal, Ukraina sangat membutuhkan mereka lebih dari sebelumnya akibat serangan baru Rusia itu. Hal itu pun membuat orang Eropa lainnya menjadi marah.
“Ini merugikan banyak modal politik Jerman di Uni Eropa dan NATO,” kata Rafael Loss dari European Council on Foreign Relations dari Economist.
Mr. Scholz tentu mengurangi ketergantungan Jerman pada energi Rusia seperti janjinya yang akan direalisasikan sesegera mungkin.
Dan, pada Maret lalu Menteri Ekonomi Robert Habeck melakukan perjalanan ke Uni Emirat Arab dan Qatar, salah satu pengekspor lng terbesar, untuk menjalin kemitraan pasokan gas baru.
Seperti ditulis Terkini.id sebelumnya bahwa Jerman merupakan salah satu negara yang tak menyukai serangan Rusia ke Ukraina. Namun, Jerman bergantung dari gas yang diekspor Rusia.
Ekonomi Jerman akan terganggu kalau terus melawan Rusia dengan menyetop impornya. Perang Rusia Ukraina selain berdampak pada kenaikan harga komoditas, juga menjadi ancaman kehancuran Jerman.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
