Pelajaran Pertama tentang Suap

Pelajaran Pertama tentang Suap

K
Kamsah

Penulis

Tentu, kita akan bilang ini salah individu. Kita cari kambing hitam, lalu kita potong. Namun demikian, kambing tak akan pernah jadi harimau, kecuali ia lapar terlalu lama.

Guru itu mungkin bersalah, namun kesalahan yang lebih besar adalah milik negara yang membiarkan para pengajarnya hidup tanpa kehormatan.

Kita biarkan mereka digaji rendah, diikat kontrak tanpa jaminan, disuruh mengabdi tanpa penghargaan. Lalu kita heran ketika sebagian dari mereka menyimpang?

“Kalau ingin melihat wajah sebuah bangsa, lihatlah bagaimana mereka memperlakukan gurunya,” kata sebuah pepatah lama.

Dan kita pun berkaca. Wajah itu tampak buram. Di kota-kota, guru honorer menumpuk, mengajar sambil berdagang kecil-kecilan sepulang kelas. Sementara di layar televisi, pejabat kita bicara soal “revolusi pendidikan” dengan gaji dan tunjangan mereka yang nyaris tak tersentuh.

Baca Juga

Kita bicara soal meritokrasi, soal SDM unggul, soal kurikulum Merdeka. Tapi selama guru tidak merdeka dari kemiskinan, semua itu hanya jargon. Pendidikan yang sejati tak lahir dari sistem yang memperbudak pengajarnya.

Mungkin itulah mengapa anak-anak tumbuh dalam dunia yang sinis. Mereka melihat sendiri bagaimana moral bisa dikompromikan. Dan kita, para dewasa, sibuk menyalahkan mereka ketika kelak mereka menjadi bagian dari sistem yang sama dengan menjual apa yang seharusnya dijaga.

Barangkali kelak, anak-anak itu akan jadi pejabat, atau polisi, atau birokrat. Dan ketika mereka menerima suap, mereka akan mengingat; dulu, aku belajar bahwa nilai bisa dibeli. Di sekolah. Dari guruku.

Dan pelajaran itu, tak pernah tertulis di buku teks mana pun.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.