Peringatan Hari Bumi, WALHI Sulsel Serukan Perangi Kejahatan Lingkungan

Terkini.id, Makassar – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan menyerukan memerangi praktek kejahatan lingkungan.

Hal ini bertepatan dengan peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April 2020.

Direktur Eksekutif WALHI Sulsel, Muhammad Al Amin, menilai, saat ini, praktek penghilangan hak-hak masyarakat atas lingkungan hidup kian meningkat di Sulawesi Selatan, dan hal itu selaras dengan banyaknya praktek kejahatan lingkungan hidup.

Baca Juga: Kepala P3E Sulawesi Maluku Apresiasi Keseriusan Pemda Polewali Mandar Untuk...

“Pada dasarnya praktek kejahatan lingkungan hidup di Sulsel sudah tinggi sejak tahun lalu bahkan sejak dua tahun lalu. Nah tahun ini, kejahatan tersebut bukannya berkurang namun semakin meningkat, baik jumlahnya maupun modusnya,” kata dia, Rabu, 22 April 2020.

Amin mengingatkan, Hari Bumi tahun ini harus menjadi momentum bagi semua, terutama para penegak hukum untuk memerangi kejahatan tersebut.

Baca Juga: 6 Agenda Penting Wali Kota Makassar dari WALHI Sulsel

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pada dasarnya, faktor utama tingginya kejahatan lingkungan di Sulawesi Selatan adalah lemahnya inisiatif pemerintah dan penegak hukum dalam menjalankan penegakan hukum lingkungan hidup.

“Serta tebang pilih kasus,” tegasnya.

Amin mencontohkan praktek kejahatan lingkungan yang terjadi di daerah Luwu Timur berupa luapan limbah dari area konsesi PT PUL, serta aktivitas tambang pasir laut, dan reklamasi yang dilakukan PT Boskalis tanpa konsultasi publik serta dokumen-dokumen lingkungan.

Baca Juga: RDP Dengan Anggota Komisi IV DPR RI, Thomas Berharap TN...

“Saya kira masih banyak sekali praktek kejahatan lingkungan di Sulsel kalau harus disebut satu per satu. Akan tetapi dua contoh ini saya kira cukup merepresentasi dan memperlihatkan bagaimana lemahnya penegakan hukum lingkungan di Sulawesi Selatan,” kata dia.

Di sisi lain, lanjutnya, masyarakat miskin yang hidup di pedalaman atau di pelosok desa sering kali ditindak dan dijerat pasal yang berat.

“Di tengah lemahnya penegakan hukum lingkungan bagi perusahaan-perusahaan bermodal besar, masyarakat miskin di sekitar hutan malah sering ditangkap dan dijerat pasal pidana dengan alasan penegakan hukum. Inilah yang saya maksud praktek tebang pilih oleh penegak hukum di Sulawesi Selatan,” ungkapnya.

Pada momentum memperingati Hari bumi, pihaknya mengajak semua orang, pria dan perempuan terkhusus pemerintah serta penegak hukum di Sulawesi Selatan untuk bersama-sama masyarakat dan WALHI Sulsel memerangi praktek kejahatan lingkungan hidup.

“Dengan begitu keadilan lingkungan dapat dirasakan oleh semua kalangan dan lapisan masyarakat di bumi Sulawesi Selatan,” pungkasnya.

Sponsored by adnow
Bagikan