Psikodigital: Medsos dan Perang Opini

Psikodigital: Medsos dan Perang Opini

HZ
Muhlis Pasakai
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Beliau pernah bergelut dengan ilmu kalam dan usuluddin dan berhasil mendebat kelompok-kelompok yang menyimpang hingga membuatnya menjadi tokoh intelektual yang tidak tertandingi. Suatu saat ketika menyaksikan anaknya berdebat, Abu Hanifah melarangnya. Sang anak pun berkata, “Dulu, kami melihat engkau suka berdebat, tapi mengapa engkau melarang kami melakukannya?”. Abu Hanifah menjawab, “Kami memang berdebat dan beradu argumentasi, seolah-olah ada burung di atas kepala kami. Kami berdebat dan berharap agar lawan debat kami tidak keliru. Tetapi, kalian berdebat sekaligus ingin menggelincirkan lawan dan ingin membuatnya keliru!”. Pesan Abu Hanifah ini penting menjadi reminder terhadap nafsu dialektis masa kini.

Di medsos, terlepas dari bebasnya orang mengutarakan pendapat tanpa basis keilmuan yang jelas, berbagai kicauan dan ekspresi dapat menjadi “Bank Data” untuk memetakan emosi dan kecenderungan publik. Ini dapat dimanfaatkan untuk mengambil keputusan strategis. Pentingnya Bank Informasi atau Pusat Penelitian dan Informasi ini telah disinggung oleh Yusuf Qardhawy dalam Awlawiyyat al-Harakat al-Islamiyyah fi al-Marhalah al-Qadimah dengan terjemahan Indonesia “Prioritas Gerakan Islam”.

Konon Hitler pernah mengatakan, “Siapa yang menguasai media, dia akan menguasai dunia”. Di era digital ini, medsos dapat menjadi trend setter persepsi, sehingga siapa yang dapat ‘mengendalikannya’ akan ‘berbicara’ banyak dalam membentuk mindset publik. Jika dulu Wright Mills, seorang profesor sosiologi Columbia University menyebut bahwa media adalah pencipta dunia palsu (pseudo world), maka apa yang dipublikasikan orang melalui berbagai medsos hari ini pun bisa jadi adalah ‘dunia palsu’.

Ya, karena layar tetaplah layar yang tak cukup dimensi untuk ‘membahasakan’ tentang seseorang secara utuh dan apa adanya kepada komunikan. Meskipun demikian, medsos tetaplah menjadi aktor penting dalam ‘perang opini’, dan karena ‘cuitan liar’ di berbagai media sosial dapat membentuk persepsi dan opini publik, dalam waktu yang lama, seperti yang ditulis Mills dalam bukunya The Power Elit: in the long run, public opinion will not only be right, but public opinion will prevail.

Allahu A’lam.

Baca Juga

*Istri al-Aziz ini dikenal dengan nama Zulaikha, namun dalam Qhasas al-Anbiya disebutkan bahwa nama tersebut adalah laqab atau julukan, Ibnu Katsir mengutip Ibnu Ishaq bahwa nama istri Al-Aziz adalah Rael bintu Ramael, sementara riwayat lain menyebut Fika bintu Yanus.

Muhlis Pasakai adalah Sekretaris Yayasan Pendidikan Al-Islami Sinjai, serta pendidik di SMP Negeri 22 Sinjai dan SMK Muhammadiyah Sinjai. Aktif di Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sinjai, dan menjabat Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sinjai Utara.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.