Psikodigital: Medsos dan Perang Opini

Psikodigital: Medsos dan Perang Opini

HZ
Muhlis Pasakai
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Pilgub di Jakarta, Jokowi-Ahok dianggap berhasil memacu sentimen positif di media sosial melalui JASMEVnya. Melalui media sosial, berbagai peristiwa dan kritik juga dengan cepat tersebar mengundang simpati hingga dapat berujung pada gerakan massa. Social Media Politica, buku Anwar Abugaza adalah salah satu referensi yang menarik ‘bercerita’ tentang gerak massa tanpa lembaga ini.

Dalam hal media sosial menjadi alat propaganda oleh pemerintah maupun partai politik dalam memanipulasi opini publik, tahun 2019 sebuah riset Computational Propaganda Research Project oleh Oxford Internet Institute melaporkan adanya kampanye manipulasi media sosial terorganisir yang telah terjadi di 70 negara.

Dalam publikasi tersebut dilaporkan bahwa propaganda komputasi digunakan sebagai alat kontrol informasi untuk menekan hak asasi manusia, mendiskreditkan lawan politik, dan meredam perbedaan pendapat. Di setiap negara, setidaknya ada satu partai politik atau lembaga pemerintah yang menggunakan media sosial untuk membentuk sikap publik. Hasil riset ini mudah didapatkan dengan googling.

Kehadiran Buzzer, Influencer dan Cyber Troops dalam jagat net adalah bukti era perang opini berbasis biner.

Kini, hampir semua lapisan masyarakat telah merasakan penetrasi media sosial. Gaya komunikasi berbasis layar menjadi budaya baru dalam berinteraksi, menjalin hubungan dan mengekspresikan pikiran. Dalam dialektika publik, kondisi seperti ini menjadikan orang-orang bebas mewacanakan apa saja. Orang-orang tiba-tiba berubah seakan menjadi para pakar, semua topik ditanggapi dan dikomentari layaknya pengamat yang menguasai bidang ilmunya secara mumpuni.

Baca Juga

Media sosial menjadi arena perdebatan para netizen, tak ayal menjadi panggung emosionalisme. Ruang diskusi ala medsos ini tak bisa dibiarkan menjadi referensi utama sebagai model perdebatan. Mereka yang secara diametral aktif dan ‘ngotot’ berdebat di medsos, harus disediakan medan diskusi lebih dari sekadar menghadapi layar. Psikologi screen tentu berbeda dibanding head to head secara langsung.

Oleh karena itu, apabila sebuah topik menjadi hot issue yang mengundang perdebatan sengit netizen, semestinya sebuah komunitas atau lembaga resmi dapat memoderasi mereka untuk bertemu langsung berdiskusi secara ilmiah, terbuka dan disaksikan oleh publik baik langsung maupun disiarkan melalui media.

Dengan demikian mereka dapat berdebat dengan jentelmen, tidak hanya garang di depan smartphone. Kualitas dan penguasaan ilmu seseorang juga akan ‘kelihatan’ karena tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan searching kemana-mana demi mencari bantahan. Dialog seperti inilah yang seharusnya lebih dibudayakan ketimbang membiarkan model diskusi diambil sepenuhnya oleh social media.

Ulil Abshar Abdalla pernah menceritakan dalam bukunya Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam tentang pengalaman di kampusnya, Universitas Boston, perihal debat yang digelar dengan isu yang saat itu ramai diperdebatkan di Amerika, yaitu intelligent design (ID). Ulil menulis bahwa debat itu dipimpin oleh seorang wasit yang memakai toga lengkap seperti seorang hakim dalam sidang pengadilan, dan salah satu aturan yang menurutnya menarik dalam debat tersebut adalah pengunjung tidak diperbolehkan melontarkan ejekan atau cibiran. Mungkin ini bisa diadaptasi.

Iklim diskusi terbuka seperti ini harus didukung oleh watak dan perilaku dialog masyarakat yang sudah memiliki mental discourse yang stabil, agar diskusi-diskusi ilmiah bukan hanya menjadi pentas menang-menangan. al-Nu’man ibn Tsabit atau Abu Hanifah adalah seorang ulama yang dikenal sangat andal dalam berdebat.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.