Ramai Isu Perpanjangan Jabatan Presiden, Ernest Prakasa: Maaf untuk Periode ke 3 Nggak Dulu

Ramai Isu Perpanjangan Jabatan Presiden, Ernest Prakasa: Maaf untuk Periode ke 3 Nggak Dulu

LA
R
Lilis Adilah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Wacana perpanjangan masa jabatan presiden masih ramai diperbincangkan. Presiden pun menjadi buah bibir dikalangan masyarakat lantaran ambisinya untuk melanjutkanke tiga periode, sementara konstitusi membatasi masa jabatan presiden hanya sampai dua periode saja.

Terkait hal ini, Aktor sekaligus Sutradara, Ernest Prakasa, turut buka suara. Dia mengatakan jika pada periode sebelumnya yakni pemilihan tahun 2014 dan 2019 dirinya memilih Presiden Jokowi untuk memimpin Indonesia, namun wacana tiga periode dirinya mengatakan tidak setuju.

“Saya dukung Jokowi di 2014. Saya dukung lagi di 2019. Tapi untuk periode 3, maaf nggak dulu”, tulis Ernest Prakasa, dikutip dari akun Twitter miliknya @ernestprakasa, Kamis 3 Maret 2022.

Ramai Isu Perpanjangan Jabatan Presiden, Ernest Prakasa: Maaf untuk Periode ke 3 Nggak Dulu
Screenshot cuitan Ernest Prakasa (Twitter).

Bagi Ernest, dua periode saja suduh cukup untuk menjabat dan periode selanjutnya merupakan sebuah ambisi untuk terus memegang jabatan sebagai presiden, sementara masa jabatan Presiden hanya maksimal dua periode saja.

Sebelumnya, wacana ini bermula dari usulan ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin yang mengusulkan untuk menunda pemilu 2024.

Baca Juga

Dari usulan ini, Presiden pun ramai diperbincangkan karena menganggap usulan ini erat kaitannya dengan wacana perpanjangan masa jabatan presiden hingga tahun 2027.

Secara garis besar, ada tiga partai pilitik yang ikut menyetujui usulan dari ketua umum PKB, yakni Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Golkar dan PKB sebagai pengusul wacana ini.

Menurut ketua umum PKB, Abdul Muhaimin Iskandar, berdasarkan analisis big data dari perbincangan di media sosial, dari 100 juta akun medsos 60 persen diantaranya mendukung presiden 3 perioden dan selebihnya menolak.

“big data mulai jadi referensi kebijakan dalam mengambil keputusan. Pemgambilan sikap bergeser dari sebelumnya mengacu pada survei, dan kini mengacu kepada big data “, kata Muhaimin Iskandar, dikutip dari laman Kompas.com, Kamis 3 Maret 2022.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.