Terkini.id, Makassar – Rencana Pemerintah Kota Makassar menggunakan Kapal Pelni KM Umsini sebagai tempat Isolasi mandiri bagi masyarakat yang terpapar Covid-19 tuai perdebatan di kalangan Dewan.
Anggota Komisi A DPRD Kota Makassar, Ray Suryadi Arsyad menuturkan tempat isolasi mandiri yang menggunakan kapal Pelni perlu dikaji lebih matang.
Ia khawatir bila tempat isolasi tersebut justru bakal menimbulkan banyak masalah. Ray bercermin dari aktivitas Tim Detektor Covid-19 yang justru menimbulkan kerumunan.
“Perlu dikaji. Pengkajian itu tidak boleh berhenti sampai gagasan itu dilahirkan,” kata Ray, Rabu, 14 Juli 2021.
Ia menilai masyarakat yang tak terbiasa naik kapal laut berpotensi mengalami penurunan imunitas. Terlebih, kata dia, kebiasaan masyarakat Makassar yang lebih senang di daratan daripada di atas kapal.
- Berita Sri Mulyani Kena Covid, dr Tifa: Katanya Sudah 2 Kali Vaksin dan 1 kali Booster
- Wali Kota Makassar Isolasi Mandiri di Kediamannya, Dinkes: Kondisinya Sehat
- Ini Aturan Terbaru soal Nataru, Pelaku Perjalanan Wajib Vaksin Lengkap dan Swab Antigen Loh!
- Covid-19 di Sulsel Melandai, Satgas Tetap Antisipasi Kenaikan
- Sertifikat Vaksin Covid-19 Kamu Ada yang Salah, Ini Cara Mengubahnya!
“Karena saya saja, biasa masih mual kalau naik kapal, apalagi kalau orang yang tidak biasa. Jangan sampai malah memperparah keadaan orang-orang di atas kapal. Saya rasa tidak segampang itu kalau mengisolasi orang di atas kapal,” jelasnya.
Ray juga mengatakan jika kapasitas rumah sakit di Makassar masih dalam kondisi normal. Sebab itu, ia mempertanyakan mengapa isolasi harus dilakukan di atas laut.
“Saya kira kapasitas rumah sakit kita masih aman-aman saja kok. Kita belum separah di jawa dan sekitarnya,” ungkapnya.
Sementara Ketua Komisi D DPRD Kota Makassar, Abdul Wahab Tahir memiliki pandangan yang berbeda. Wahab justru mengapresiasi Pemerintah Kota Makassar terkait rencana ini. Hal ini menjadi inovasi baru di Indonesia untuk mencegah penyebaran Covid-19 lebih luas.
Menurutnya, inovasi ini terbilang berani lantaran selama ini baru dua negara yang menerapkan isolasi mandiri di atas laut.
“Saya nyatakan sebagai wakil rakyat, rencana ini luar biasa. Setahu saya sejak ada Covid-19, ada dua negara di dunia menggunakan ini. Amerika dan Indonesia. Ini langkah berani yang diambil, mudah-mudahan berjalan dengan baik dan semoga bisa dipergunakan segera,” kata Wahab.
Wahab mengatakan, kendala yang mungkin terjadi hanya pada kemungkinan buruknya sirkulasi udara dalam kapal.
“Salah satu kendala di kapal itu soal udara bersih. Nantinya di kapal itu dibuatkan alat kemudian agar sirkulasi udara mengalir baik. Jadi isolasi mandiri bisa sehat,” tutupnya.
Sementara, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto mengatakan bakal berunding dengan PT Pelni ihwal teknis isolasi mandiri di atas kapal.
Danny Pomanto menuturkan ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum kapal tersebut beroperasi.
“Kami akan berunding dengan Direktur Pelni, kita finalisasi. Persiapan kira-kira sudah sekitar 60 persen lah,” kata Danny Pomanto.
Kapal Pelni KM Umsini yang bakal menjadi tempat isolasi mandiri Covid-19 telah tiba di Pelabuhan Makassar, Jalan, Nusantara, Kecamatan Wajo pada Rabu, 14 Juli 2021.
Kapal ini diperkirakan bisa menampung 2.000 orang. Namun dengan adanya pembatasan, maka kapasitas yang digunakan hanya sekitar 70 persen saja, atau sekitar 1.400 orang.
Salah satu hal teknis yang akan dibicarakan adalah terkait sistem HEPA. Danny menyebut fasilitas tersebut harus ada di dalam kapal saat Isman dijalankan.
“Walau kemarin tim ahli bilang tidak perlu HEPA tapi saya bilang jangan, nanti ada yang sakit di situ, mereka bilang gara gara udaranya lagi. Ini sekarang kan fitnah lebih kejam dari pada virus, kira-kira begitu,” terangnya.
HEPA alias High Efficiency Particulate Air adalah jenis filter udara mekanis yang bekerja dengan menyaring debu, asap rokok, bulu hewan, dan lainnya yang terdapat dalam udara.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah paparan virus corona adalah dengan menggunakan air purifier dengan HEPA filter.
Alat tersebut dinilai memiliki penyaring yang mampu membasmi partikel udara terkecil, termasuk virus corona.
Sementara kriteria pasien Covid-19 yang berhak isolasi apung yakni pasien yang memiliki gejala ringan dan sedang. Sementara yang berat akan tetap di rawat di Rumah Sakit (RS).
Langkah tersebut, kata Danny, untuk meringankan beban rumah sakit yang menangani Covid-19 di Makassar.
“Rumah sakit jangan penuh karena orang bergejela ringan saja padahal orang bergejala berat dan sedang tidak terlayani karena dipenuhi dengan bergejala ringan apalagi OTG,” ungkapnya.
“Ini kita akan pisahkan. Gejala ringan dan OTG jangan di rumah sakit tinggal di sini saja, sedangkan yang gejala berat biar di rumah sakit,” sambungnya kemudian.
Sementara, Direktur Usaha Angkutan Penumpang PT Pelni, O.M Sodikin mengatakan sesuai standar WHO, kapal yang berlayar lebih dari satu hari, harus dilengkapi dengan tempat tidur, MCK, dan tempat makan.
“Untuk sistem ventilasinya karena diperuntukan untuk daerah tropis makanya pakai AC high press, jadi dari luar disemprotkan ke dalam, lalu dibuang,” ujar Sodikin.
Ia merincikan, ada 9 dek salam kapal tersebut, dengan jumlah personil sekitar 140 orang.
“Personil di atas kapal 140-an, kemungkinan dilibatkan, tapi nanti menyesuaikan dengan kebijakan Pekot (Makassar). Kami ikuti kebijakannya apa,” sebutnya.
“Yang jelas kami diminta menyiapkan kapal ini. Pak wali mau kordinasi dengan pakar di sini juga sudah disiapkan,” paparnya kemudian.
Terkait akomodasi, Sodikin belum bisa berbicara banyak, sebab hal itu masih dalam tahap pembahasan.
“Akomodasi masih diproses. Biayanya masih diproses. Intinya melibatkan perhubungan, Pelni,” paparnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
