Masuk

Rezeki vs Gaji

Komentar

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (rezeki sebagian).

Sesungguhnya Dia tentang hamba-hambaNya Maha Melihat lagi Maha Mengetahui” (Al-Isra: 30).

Itulah salah satu firman Allah dalam Al-Quran dalam menyikapi pembagian rezeki di antara hamba-hambaNya.

Baca Juga: Hentikan Menakut-nakuti Rakyat!

Bahwa Dia Allah “Yang Mencipta (khalaqa) Yang merancang (sawwa) Yang menentukan (qaddara) dan memberikan petunjuk (hadaa).

(Al-a’la: 2-3). Sebuah penekanan bahwa dari penciptaan dan segala yang terkait dengan kehidupan manusia terpusat dalam satu komando. Yaitu komando “Dia Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi” (Al-a’la: 1).

Beragam ayat maupun hadits yang menyebutkan tentang rezeki dan kehidupan manusia.

Baca Juga: I Am Sorry, I’ve Misunderstood Your Faith!

Di antaranya adalah ayat-ayat yang mengharuskan bagi orang-orang beriman untuk “menafkahkan sebagian dari apa yang telah direzekikan kepadanya” sebagai bagian dari karakter ketakwaan (lihat Al-Baqarah 1-5).

Hanya saja ada kekeliruan dalam memahami arti rezeki. Seringkali dipahami sebagai sekedar “finansial income” (pemasukan keuangan).

Bahkan lebih sempit lagi ketika dipahami rezeki itu seolah hanya gaji rutin (bulanan misalnya) seseorang.

Kekeliruan dalam memahami arti rezeki dengan batasan gaji tentu memiliki konsekwensi yang cukup parah.