Pertama, membatasi karunia Allah yang tiada batas. Kedua, kemungkinan membatasi diri sendiri dalam mensyukuri karunia Allah yang begitu luas.
Oleh karenanya yang pertama harus disadari adalah bahwa sifat Allah dalam memberi rezeki itu pada umumnya dieskpresikan dengan “Ar-Razzaq” atau “Yang Maha Pemberi rezeki secara berlebihan dan terus menerus”.
Di dalam kaedah bahasa Arab bentuk kata seperti ini disebut bentuk “tafdhiil” (melebihkan).
Menunjukkan bahwa Allah itu memberian rezekiNya secara terus menerus sehingga sejatinya dirasakan dengan perasaan “Qana’ah” (berkecukupan).
Kesadaran lain yang harus dibangun dalam menyikapi rezeki adalah bahwa pembagian rezeki secara kwantitatif itu merupakan hak prerogatif Allah SWT.
Bukankah memang Allah “memberikan rezekiNya kepada siapa yang Dia kehendaki” bahkan “di luar batas kalkulasinya” (lihat misalnya Al-Baqarah: 212).
Suatu ketika Umar RA menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari yang isinya: “dan belajarlah puas dengan rezeki dalam kehidupan duniamu.
Karena sesungguhnya Yang Maha Rahman (Allah) melebihkan sebagian di atas sebagain manusia dalam rezeki.
Allah timpakan ujian pada masing-masing (yang banyak atau yang sedikit).
Maka Dia (Allah) menguji siapa yang dikarunia rezeki lebih untuk mensyukurinya dan bagaimana menggunakan karunia itu secara baik dan benar (diriwayatkan Ibnu Hatim).
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
