Masuk

Said Didu Sorot Proyek Kereta Cepat, Sebut Dipaksakan Demi Pencitraan

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Mantan Sekretaris BUMN, Muhammad Said Didu menyoroti proyek Kereta Api cepat yang dinilainya sebuah proyek yang dipaksakan demi pencitraan semata.

Menurutnya, proyek Kereta Api cepat kian membuka fakta dan menghadirkan bukti bahwa pada kenyataannya proyek itu tidaklah layak.

“Makin terbuka bahwa proyek kereta api cepat adalah proyek yang dipaksakan demi pencitraan karena makin terbukti bahwa proyek tersebut tidak lain dan layak. Dampaknya adalah bahwa PT KAI bertambah beban setelah LRT Palembang dan KA Bandara”, kata Said Didu seperti dikutip dari cuitannya, Senin 14 November 2022.

Baca Juga: Said Didu Nilai Jokowi ‘Jago’ Numpuk Utang Dibanding dengan Soeharto dan SBY

 Selain itu, Said Didu melalui sebuah video yang ditayangkan di kanal YouTube pribadinya bersama jurnalis senior Hersubebo Arief juga menyinggung mengenai tarif kereta cepat.

Said Didu ketika ditanya oleh Hersubeno Arief mengenai harga yang dipatok oleh Menteri Perhubungan yakni sekitar Rp 250 ribu, dia pun menyinggung mengenai studi kelayakan yang disebutnya main-main.

“Pertama Mas Hersu kita katakana bahwa studi kelayakan yang dibikin ini adalah studi kelayakan main-main. Dan kelihatannya saya tidak pernah tertarik membahas studi kelayakan karena itu hasil kerja Excel sebenarnya”, Kata Said Didu.

Baca Juga: Perusahaan Tambang China di LN tidak Diberi Tempat, Said Didu Sebut di Indonesia Sebaliknya

“Kereta Api gampang sebenarnya kalau mau mempercepat untung naikkan tiket naikkan jumlah penumpang, iya kan”, uajrnya.

Tak hanya sampai disitu saja, Said Didu menilai Menteri Perhubungan tidak memiliki wewenang mematok tarif kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan itu sebuah pelanggaran.

“Yang menarik lagi apa kewenangan Menteri Perhubungan menetapkan tarif kepada BUMN? Nggak ada kewenangannya, nggak ada kewenangannya. Itu jelas-jelas melanggar Mas Hersu, karena yang berhak menaikkan tarif itu direksinya nggak ada kaitan dengan Menteri Perhubungan”, lanjut Said Didu.

Membahas mengenai untung rugi dalam bisnis Kereta Api, Said Didu mengkahwatirkan jika Indonesia masuk dalam jebakan China dimana keuntungan dari infrastruktur baru akan didapatkan setelah sekitar 40-50 tahun beroperasi.

Baca Juga: Said Didu Tanggapi Soal Tesla Akan Bangun Pabrik di RI: Saya Hanya Ketawa Saja

Dia mempertanyakan mengapa pemerintah menerima tawaran proyek yang keuntungannya baru bisa didapatkan setelah berpuluh-puluh tahun beroperasi.

“Saya takutnya, was-wasnya  ini memang jebakan, kita masuk jebakan China kenapa Ada Pemerintah yang menerima bahwa suatu proyek baru bisa balik modal 40 tahun tapi tetap yes”, kata Said Didu.

“Jadi Kereta Api Cepat ini adalah jebakan rezim Jokowi kepada generasi akan datang agar tetap tergantung pada China”, ujar Said Didu.