Sekilas Sejarah Perayaan Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar

Terkini.id, Makassar – Perayaan hari ke 15 Imlek di Kota Makassar dilakukan warga keturunan Tionghoa dengan menggelar festival. Acaranya digelar rutin sudah hampir berpuluh tahun. Diberi nama Jappa Jokka Cap Go Meh.

Menurut Pengamat Budaya Tionghoa, Muhammad David Aritanto, Jappa Jokka diambil dari dua suku kata yang artinya jalan-jalan. Jappa dari bahasa Makassar dan jokka dari bahasa Bugis.

Setiap perayaan Jappa Jokka, sudut-sudut jalan di Kota Makassar bertabur spanduk. Cap Go Meh berasal dari bahasa Hokkian artinya malam ke 15 imlek – atau hari terakhir perayaan imlek.

Pada masa kepemimpinan Presiden Abdul Rahman Wahid alias Gus Dur, Cap Go Meh masih dikenal dengan istilah Pasar Malam Cap Go Meh. Penggagas kegiatan pasar malam adalah Yongris, Ketua Walubi (Perwakilan Ummat Budha Indonesia) Sulsel dan Roy Ruslin Ketua Vihara Girinaga Makassar.

Kemudian David Aritanto bersama tokoh keturunan Tionghoa lainnya mengubah nama Pasar Malam menjadi Jappa Jokka. “Istilah Jappa Jokka Cap Go Meh diambil dari kultur Bugis Makassar,” kata David.

Menarik untuk Anda:

Jappa Jokka diharapkan menggabungkan tradisi, budaya, dan kuliner di Sulawesi Selatan. Sehingga menjadi tempat berkumpul sambil menikmati penganan kue yang berciri Tionghoa, Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

“Sesuai karakter masing-masing kabupaten,” ujar David.

Sejarah Cap Go Meh

Pengamat Budaya Tionghoa, Muhammad David Aritanto
Pengamat Budaya Tionghoa, Muhammad David Aritanto

Menurut David, malam Cap Go Meh bukan malam temu jodoh. Sejarah Cap Go Meh dari Tiongkok banyak versi. Namun yang banyak diketahui bersumber dari cerita rakyat kuno Tiongkok, ada dua versi.

Versi pertama, Cap Go Meh bermula dari keresahan seorang kaisar, yang bermimpi akan dibakar dan dibumihaguskan kerajaan dan wilayah pemerintahannya kala itu.

Melihat gelagat keresahan kaisar, perdana menteri membisik ke kaisar, agar bertemu ahli nujum yang dapat memecahkan kegundahan mimpinya. Lalu kaisar mengikut petunjuk dari perdana menteri. Tanpa diketahui oleh kaisar, ahli nujum itu sebenarnya adalah perdana menterinya yang menyamar.

Sepulang dari pasar, kaisar memerintahkan seluruh rakyatnya membuat lampion sesuai anjuran ahli nujum. Dan dinyalakan pada malam hari. Tujuannya untuk mengecoh musuh yang akan menyerang kerajaan dan wilayah pemerintahannya.

Alhasil, dari kejauhan pada malam hari desa-desa dipenuhi cahaya terang mirip kobaran api. Bersumber dari lampion yang dipasang di depan rumah. Akhirnya musuh mundur dan mengira sasaran penyerangan sudah terbakar.

“Padahal cahaya itu berasal dari lampion yang menyala,” kata David.

Versi kedua, putri Yen Siao yang merupakan abdi dalem kerajaan di era salah satu dinasti Tiongkok. Setelah Yen Siao akil balig, dia merasa kesepian.

Sejak kecil Yen Siao dikungkung dalam istana kerajaan. Tidak bisa berinteraksi dengan orang tuanya. Bahkan dia sendiri tidak mengenali bagaiman rupa orang tuanya.

Karena rindu berat, suatu ketika Yen Siao nyaris bunuh diri. Dengan cara melompat ke dalam sumur. Untung Perdana menteri di kerajaan itu melihatnya dan bertanya, “kenapa nekat mau menghambisi nyawa di sumur”.

Yen Siao menjawab, “tidak ada gunanya hidup dalam kemewahan istana tanpa merasakan kasih sayang dari kedua orang tua,”

Dari persitiwa ini, Perdana Menteri memberikan ide ke Kaisar untuk melaksanakan pesta rakyat dan festival lampion. Dilengkapi semboyan filosofi pada lampion.

Sementara Perdana Menteri membuat lampion raksasa yang bertuliskan Yen Siao. Lalu perdana menteri meminta Yen Siao berdiri di bawah lampion raksasa tersebut.

Saat pesta berlangsung, tiba-tiba seorang bapak terperangah melihat tulisan di lampion raksasa. Melihat seorang gadis berdiri tepat di bawah lampion.

Bapak itu spontan berteriak dengan memanggil Yen Siao. Sang gadis menoleh ke arah suara dan melihat sosok orang tua yang memanggilnya.

Akhirnya bapak dan anak dipertemukan di bawah lentera. Isak tangis penuh keharuan.

“Inilah cikal bakal Cap Go Meh sebagai hari kasih sayang. Bukan hari kasih sayang untuk mencari jodoh,” kata David.

Jappa Jokka Cap Go Meh

Kue keranjang, penganan tradisional khas imlek. Foto : Ist

Perayaan Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar sudah menjadi agenda tahun Pemerintah Kota Makassar. Sebagai bagian dari promosi budaya dan menarik wisatawan.

Berbagai macam kegiatan di gelar dalam festival ini. Seperti lomba nyanyi, kuliner, lomba barongsai, dan pameran.

“Harapan saya, setiap pelaksaan Jappa Jokka lebih mengangkat budaya lokal dan tradisional daerah di Sulawesi Selatan,” kata David.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Program 100 Hari Danny-Fatma, Apa Saja?

Pilkada 2020: Ketua KPU Makassar: Partisipasi Pemilu Paling Tinggi Sepanjang Sejarah

Komentar

Terpopuler

Terkini

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar