Terkini.id, Jakarta – Pakar Hukum Tata Negara, Yusril Ihza Mahendra turut mengomentari pernyataan kontroversial Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas bahwa Kementerian Agama (Kemenag) adalah hadiah negara khusus untuk Nahdatul Ulama (NU).
Yusril menilai bahwa ucapan Menag itu tidak ada manfaatnya bagi kemaslahatan umat Islam dari organisasi masyarakat (ormas) manapun juga.
Ia juga menilai bahwa ucapan Yaqut tentang Kemeng bukan hadiah kepada umat Islam pada umumnya itu hanya bikin gaduh saja.
“Ucapan seperti itu tidak ada manfaatnya bagi kemaslahatan umat Islam dari ormas manapun juga,” kata Yusril melalui akun Twitter-nya pada Senin, 25 Agustus 2021.
Kalau kita gunakan istilah zaman Orde Baru dulu, kata Yusril, ucapan Menag itu dapat mengganggu kerukunan internal umat beragama.
- Gubernur Sulsel Terima Kunjungan Menko Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra
- Minta Larangan Bukber Dicabut, Yusril Ihza: Pemerintah Jokowi Bisa Disebut Anti-Islam!
- Larangan Buka Puasa Bersama Tuai Respons dari Berbagai Pihak
- Mahfud MD Ngaku 'Nyerah' Ditantang Debat Jumhur Hidayat: Mohon Maaf!
- Yusril Sebut Prabowo Berpotensi Menangkan Pilpres 2024 Jika Didampingi Jokowi Sebagai Cawapres
Padahal, lanjutnya, salah satu tugas Kementerian Agama adalah menjaga dan memelihara kerukunan internal dan antar umat beragama.
“Bagi saya yang mempelajari hukum tatanegara dan sejarah ketatanegaraan RI, keberadaan Kementerian Agama itu bukanlah “hadiah” dari siapapun,” kata Yusril.
Menurutnya, beberadaan Kementerian Agama itu adalah konsekuensi logis dari negara berdasarkan Pancasila yang kita sepakati bersama.
Yusril lantas menyinggung pernyataam Prof Supomo dalam sidang BPUPKI baha Pancasila adalah jalan tengah antara negara “berdasarkan Islam” dengan negara sekular yang “memisahkan urusan keagamaan dengan urusan kenegaraan”.
“Keberadaan Kementerian Agama telah diusulkan oleh Muhammad Yamin dalam sidang BUPKI,” ungkapnya.
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu pun menjelaskan bahwa di negara yang menjadikan Islam sebagai agama resmi negara seperti Malaysia, Raja (Yang Dipertuan Agung) adalah Ketua Agama Islam.
Dalam sistem seperti itu, katanya, semua urusan keagamaan Islam ditangani langsung oleh negara.
Sebaliknya, lanjut Yusril, di negara yang secara resmi menyatakan dirinya negara sekuler seperti Philipina, negara samasekali tidak terlibat menangani urusan agama.
Ia menjelaskan, UUD Philipina tegas menyatakan “separation of church and state”. Negara dilarang mengalokasikan anggaran untuk agama apapun.
“Di negara kita, meskipun mayoritas Muslim, Islam tidak dinyatakan sebagai agama resmi negara seperti di Malaysia,” kata Gusril.
“Tetapi kita bukan negara sekular yang memisahkan urusan agama dari negara seperti Philipina. Negara bersikap pro-aktif mendukung terlaksananya ajaran-ajaran agama,” tambahnya.
Negara berdasarkan Pancasila, menuruy Husril, menjadikan ajaran-ajaran agama sebagai sumber motivasi dan inspirasi dalam membangun bangsa dan negara.
Karena itu, lanjutnya, negara berkewajiban melayani dan memfasilitasi kepentingan umat bergama dalam melaksanakan tuntunan ajaran agamanya.
“Karena itulah saya mengatakan bahwa keberadaan Kementerian Agama bukanlah hadiah buat siapa-siapa,” kata Yusril.
“Keberadaan Kementerian Agama dengan tugas utama menangani menyelenggarakan dan memfasilitasi urusan agama itu adalah konsekuensi logis dari negara berdasarkan Pancasila,” tambahnya.
Yusril berpendangan bahwa konsep bernegara seperti itu adalah khas Indonesia yang berurat-berakar dari pengalaman sejarah berabad-abad lamanya.
Karena itu, menurutnya, Indonesia tidak perlu mencontoh bangsa lain sebab kita punya problema sendiri yang perlu kita pecahkan sendiri, yang kita anggap sesuai dengan kira sendiri.
“Sebab itu, pertahankan dan kembangkan keberadaan Kementerian Agama sebagai salah satu ciri khas konsep bernegara kita yang berdasarkan Pancasila. Menteri Agama seyogiyanya fokus menangani dan memecahkan berbagai problema keagamaan di negara kita,” ungkapnya.
Terakhir, Yusril kembali menrgaskan bahwa omongan soal Kementerian Agama adalah hadiah buat umat Islam seluruhnya atau hadiah khusus bagi NU saja itu tidak ada gunanya.
“Omongan seperti itu hanya bikin gaduh, membuang energi dan tidak menguntungkan siapapun,” tandasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
