Setelah Selandia Baru, Pembantaian Umat Muslim Terjadi di Afrika Barat

Pembantaian
Lokasi pembantaian umat muslim di Mali, Afrika Barat. (foto: arrahmah.com)

Terkini.id – Pasca kejadian penembakan brutal di Christchurch, Selandia Baru, kabar duka kembali menyelimuti umat muslim sedunia. Kali ini kejadian serupa juga terjadi di Ogossogou, Mali, Afrika Barat.

Dilansir dari media internasional, ABC, pembantaian umas muslim di Mali, Afrika Barat itu, terjadi pada Sabtu 23 Maret 2019. Ratusan umat islam yang berprofesi sebagai petani dan pengembala tewas akibat pembantaian keji tersebut.

Menurut laporan ABC, Senin 25 Maret 2019, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mencatat setidaknya ada sekitar 134 petani dan penggembala Muslim yang dibantai di Ogossogou. Bahkan beberapa wanita hamil ikut dibunuh dan dibakar hidup-hidup.

Dalam laporan PBB disebutkan sekelompok pria bersenjata menyamar sebagai pemburu tradisional dan menyerang para penggembala.

Korban di Ogossogou merupakan etnis Fulani yang juga tinggal di berbagai negara di Afrika Barat. Sekitar 55 orang terluka dan tengah menjalani perawatan.

Aksi biadab tersebut sontak membuat masyarakat dunia geram setelah sebuah video yang memperlihatkan kondisi korban di lokasi kejadian, beredar di media sosial pada Minggu 24 Maret 2019.

Dalam video yang beredar, terlihat keadaan warga setelah serangan mengerikan itu. Banyak korban terbakar di rumah mereka, tubuh anak-anak yang ditutupi selembar kain, dan berbagai pemandangan mengerikan lainnya.

Konflik dua kelompok di Afrika Barat

Pembantaian
Lokasi pembantaian di Mali, Afrika Barat. (foto: malangtoday.net)

Atas peristiwa brutal tersebut, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam keras para pelaku. Menurutnya, pihak yang bertanggungjawab atas aksi itu harus dibawa ke pengadilan.

Adapun pihak yang dinilai bertanggungjawab, kata Antonio Guterres, yakni kelompok milisi etnik Dogon. Tuduhan ini berdasarkan adanya anggota dari kelompok anti kekerasan Peuhl yang selama ini dinilai sebagai dua kelompok yang saling bertentangan.

Ketegangan keduanya semakin menjadi-jadi saat Dogon menuduh Peuhl mendukung ekstremis Islam.

Anggota-anggota kelompok Dogon menuduh kelompok Peulh mendukung para militan yang terkait dengan kelompok-kelompok kekerasan di utara dan di luar negeri.

Sementara kelompok Peulh menuduh balik kelompok Dogon mendukung tentara Mali dalam upayanya untuk membasmi ekstremisme.

Sebelumnya, pada Desember 2018, Human Rights Watch telah memperingatkan bahwa pembunuhan milisi terhadap warga sipil di Mali tengah dan utara sudah di luar kendali.

Kelompok HAM itu mengatakan milisi etnik Dogon yang dikenal sebagai Dan Na Ambassagou dan pemimpinnya telah dikaitkan dengan banyak kekejaman dan menyerukan pemerintah Mali untuk menuntut para pelaku.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Politik

Hasil Konferda, KSB PDIP Sulsel Dipertahankan

Terkini.id -- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Provinsi Sulawesi Selatan baru saja menyelesaikan Konferensi Daerah (Konferda) di Hotel Claro Makassar,