Terkini, Makassar – Tallo kehausan di tengah gemerlap Kota Makassar. Ironisnya, di kota yang katanya maju ini, ribuan warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Setiap hari, selama 20 tahun, ibu rumah tangga di Tallo harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan air bersih. Anak-anak terpaksa mengurangi aktivitas karena kekurangan air untuk mandi.
Riset WALHI membongkar fakta mengejutkan: distribusi air di Makassar sangat timpang. Warga Tallo yang jumlahnya lebih banyak justru mendapat jatah air yang jauh lebih sedikit dibandingkan wilayah lain.
WALHI Sulsel Ungkap Krisis Air di Tallo, Bukan Sekadar Masalah Teknis
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan mengungkapkan bahwa krisis air yang dialami ribuan warga di Kecamatan Tallo, Makassar, bukan semata-mata akibat masalah teknis perpipaan, melainkan persoalan mendasar terkait akses dan distribusi air yang timpang.
- Wabup Gowa Hadiri Hari Bhayangkara ke-80, Perkuat Sinergi Pemkab dan Polri
- Di Rakernas APEKSI 2026: Wali Kota Makassar Munafri Dorong Penguatan Ketahanan Bencana dan Pangan
- Semen Tonasa Gelar Sunatan Massal bagi Masyarakat Lingkar Perusahaan
- HUT Ke-80 Bhayangkara, Polres Jeneponto Musnahkan Sabu 1 Kg, Bernilai Rp1,2 Milyar
- Kalla Toyota Cetak Rekor Penjualan Juni 2026, Sambut Juli dengan Event Hybrid Terbesar di Makassar
Hal ini terungkap dalam acara diseminasi hasil riset WALHI bertajuk “Makassar Kota Dunia yang Krisis Air”, yang digelar di Aula Kantor Camat Tallo, Makassar.
Dalam acara yang dihadiri oleh perwakilan warga dari tiga kelurahan (Buloa, Tallo, dan Kaluku Bodoa), Dinas PU Kota Makassar, PDAM Kota Makassar, serta berbagai organisasi masyarakat sipil, WALHI Sulsel memaparkan bahwa masalah krisis air di Makassar utara tidak lepas dari minimnya ruang terbuka hijau (RTH) dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang buruk.
Krisis Air dan Ketimpangan Distribusi
Kepala Departemen Riset dan Keterlibatan Publik WALHI Sulawesi Selatan, Slamet Riadi, menjelaskan bahwa pesatnya industrialisasi dan berkurangnya tutupan hutan di tiga DAS utama—Jeneberang, Tallo, dan Maros—menjadikan Makassar rentan terhadap banjir saat musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.
“Kota Makassar semakin padat dengan lahan terbangun mencapai 65,04%. Sementara itu, tutupan hutan di DAS Jeneberang hanya 16,8%, DAS Tallo 12,1%, dan DAS Maros 19,8%. Kondisi ini membuat Makassar kerap mengalami banjir saat hujan dan kekeringan saat kemarau,” papar Slamet.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
