Soroti Kinerja Polisi Soal Pembunuhan Subang, Ahli: Jangan Hanya Andalkan Saksi

Soroti Kinerja Polisi Soal Pembunuhan Subang, Ahli: Jangan Hanya Andalkan Saksi

FD
Fachri Djaman

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri menyoroti kinerja polisi terkait pengungkapan kasus pembunuhan Subang yang menewaskan ibu dan anak, Tuti Suhartini-Amalia Mustika.

Hingga pekan ketiga, penyelidikan polisi terhadap kasus pembunuhan Subang tersebut tak kunjung selesai. Pelaku pembunuh ibu dan putrinya itu saat ini juga belum diketahui.

Reza pun menilai, seharusnya pemeriksaan terhadap kasus tersebut bisa selesai dalam hitungan 2×24 jam.

Sebab, kata Reza, menurut sejumlah penelitian proses berkepanjangan hanya akan melahirkan kompleksitas baru yang membingungkan.

“Durasi waktu yang dianggap vital bagi kasus pembunuhan adalah 48 jam. Jadi, kurang lebih dua hari. Bagi ilmuwan yang mendukung ini, kalau sudah lebih 48 jam, maka semakin tinggi kompleksitasnya,” ujar Reza, Senin 6 September 2021.

Baca Juga

Ia memastikan, setiap kasus pasti punya kerumitannya sendiri-sendiri. Namun, tetap saja, makin lama polisi menuntaskannya, maka makin banyak kemungkinan baru yang justru membuat segalanya lebih rumit.

“Jadi kalau kita jadikan teori itu acuan berpikir, maka kita bisa pahami, semakin berjalan waktu, boleh jadi dituntut kerja lebih ekstra lagi dari polisi. Tentu saja, teori 48 jam itu mengesampingkan kompleksitas kasus satu dengan kasus lain,” terangnya.

Lebih lanjut, Reza menyarankan dalam kondisi yang serba kacau itu kesaksikan saksi tak bisa ditelan mentah-mentah. Sebab, bisa saja keterangannya mengalami distorsi akibat terlalu stres.

“Dalam kondisi yang sudah stressfull seperti itu, dalam khasanah psikologi forensik kalimatnya adalah proses hukum jangan hanya mengandalkan keterangan saksi,” kata Reza.

“Karena keterangan saksi itu gampang terdistorsi, gampang terfragmentasi, jadi terpecah belah. Seiring meningginya stress, seiring jangka waktu antara kejadian semakin panjang, proses keduanya semakin parah,” tambahnya.

Secara tersirat, ia pun mengingatkan publik agar jangan terburu-buru menuduh suami korban, Yosef Hidayah dan istri mudanya sebagai pelaku pembunuhan Subang

Pasalnya, menurut Reza, gerak-gerik yang aneh serta keterangan yang terdistorsi merupakan hal biasa saat seseorang merasa dirinya tertekan.

“Kita, bahkan berdasarkan hasil riset otoritas kepolisian, saat menyimak adanya keterangan yang tidak sinkron satu sama lain, yang terdistorsi sana-sini, itu mungkin akan memunculkan dugaan jangan-jangan ini orangnya,” tuturnya.

“Ketika seseorang dipanggil ulang, diperiksa ulang, dan seterusnya, boleh jadi ada kesimpang siuran keterangan dari orang yang diperiksa, terdistorsi dan terfragmentasi,” pungkasnya.

Sumber: Hops.id

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.