Tanggapi Penjelasan Luhut, Dokter Tifa Sebut Indonesia Jadi Penjara: Sipirnya Lord Voldemort Versi Kumisan

Terkini.id, Jakarta – Dokter Tifauzia Tyasumma menanggapi penjelasan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan soal membeli minyak goreng memakai aplikasi PeduliLindungi.

Dokter Tifa menilai bahwa Indonesia telah menjadi penjara terbesar di dunia dengan sipir “Lord Voldemort versi kumisan”.

“Ini bukan lagi soal biadab, gila, zalim dan apapun itu. Ini adalah bukti lahirnya,” kata Dokter Tifa melalui akun Twitter @DokterTifa, seperti dikutip Terkini.id pada Minggu, 26 Juni 2022.

Baca Juga: Utang Indonesia Tembus Rp 7.000 Triliun, Luhut: Utang Produktif

“Penjara Baru Terbesar di Dunia. NAPInya  278 juta orang. Penjara itu namanya: INDONESIA. Semua Napi dibarcode dengan PELI. Sipirnya satu: Lord Voldemort versi kumisan,” lanjutnya.

Dilansir dari Kompas, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pada mulai Senin, 27 Juni 2022, pemerintah akan mensosialisasikan pembelian minyak goreng curah rakyat (MGCR) menggunakan aplikasi PeduliLindungi selama 2 pekan ke depan.

Baca Juga: Jokowi Dapat Info Terkait Krisis Global, Dokter Tifa: Tugas Bapak...

Menurut Luhut, penggunaan aplikasi PeduliLindungi ini adalah upaya pemerintah mengatasi sengkarut minyak goreng yang terjadi, mulai dari kelangkaan stok hingga harga minyak yang melambung tinggi.

“Pemerintah melakukan upaya perubahan sistem ini untuk memberikan kepastian akan ketersediaan dan keterjangkauan harga minyak goreng bagi seluruh lapisan masyarakat,” kata Luhut Binsar Pandjaitan.

“Penggunaan PeduliLindungi berfungsi menjadi alat pemantau dan pengawasan di lapangan, untuk memitigasi potensi penyelewengan yang dapat menyebabkan terjadinya kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng,” sambungnya.

Baca Juga: Jokowi Dapat Info Terkait Krisis Global, Dokter Tifa: Tugas Bapak...

Luhut Binsar Pandjaitan melanjutkan bahwa setelah masa sosialisasi selesai, semua penjualan dan pembelian minyak goreng curah akan menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

“Sementara, masyarakat yang belum punya PeduliLindungi tidak perlu merasa khawatir, karena masih bisa membeli dengan menunjukkan NIK untuk bisa mendapatkan minyak goreng curah dengan harga eceran tertinggi (HET),” katanya.

Luhut Binsar Pandjiatan melanjutkan bahwa pembelian minyak goreng curah di tingkat konsumen pun akan dibatasi maksimal 10 kg untuk satu NIK per harinya dan dijamin bisa diperoleh dengan HET, yakni Rp14.000 per liter atau Rp15.500 per kilogram.

Jumlah tersebut, lanjut Luhut, dianggap Pemerintah sudah mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga bahkan pengusaha usaha-usaha kecil.

“Minyak goreng curah dengan harga tersebut bisa diperoleh di penjual atau pengecer yang terdaftar resmi dalam program Simirah 2.0 dan juga melalui Pelaku Usaha Jasa Logistik dan Eceran (PUJLE), yakni Warung Pangan dan Gurih,” katanya.

Bagikan