Terkini, Jeneponto – Pemerintah Kabupaten Jeneponto melaksanakan Gerakan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada Ibu hamil dan Balita Stunting.
Kegiatan gerakan intervensi serentak pencegahan stunting dan PMT kepada Ibu hamil dan Balita stunting di laksanakan di Kantor Desa Karelayu, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Senin, 10 Juni 2024.
Gerakan intervensi serentak pencegahan stunting dan PMT kepada Ibu hamil dan Balita stunting dihadiri langsung oleh Pj Bupati Jeneponto, Junaedi Bakri.

Hadir, Direktur RS Ibu dan Anak Pertiwi Makassar, Pj Ketua TP PKK Jeneponto, beberapa dokter spesialis, Danramil dan Kapolsek Tamalatea, para Asisten, Kadis Kesehatan, Kadis Kominfo, Sekretaris Bappeda, beberapa pejabat Pemkab Jeneponto, Camat Tamalatea, para Kepala Desa dan Kelurahan, Kepala Puskesmas Tamalatea dan Embo serta Ibu hamil dan Balita.
Pj Bupati Jeneponto, Junaedi Bakri dalam sambutannya mengatakan, Gerakan intervensi serentak pencegahan stunting dan pemberian makanan tambahan di lakukan agar Indonesia, Sulawesi Selatan, khusus Jeneponto bebas dari stunting.
- Resmi Dibuka, TMMD ke-128 Kodim 1425 Jeneponto Sasar Desa Arungkeke Pallantikang
- Asmo Sulsel dan Polres Gowa Tanamkan Kesadaran Berkendara Aman Bagi Pelajar SMAN 8 Gowa
- Perkuat Ekowisata, Poltekpar Makassar Latih Warga Kelola Destinasi
- CJH Soppeng Gagal Berangkat Haji, diketahui tengah mengandung 10 minggu
- Koko Cici Sulsel 2026 Masuki Tahap Akhir, Talent Show dan Grand Final Siap Digelar
“Berdasarkan Perpres 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting, intervensi gizi spesifik, yakni intervensi yang berhubungan dengan peningkatan gizi
dan kesehatan dan intervensi gizi sensitif, yakni intervensi pendukung untuk percepatan penurunan angka stunting di Jeneponto,”
Menurutnya, selain intervensi gizi, menurut Pj Bupati Jeneponto, Junaedi Bakri mengatakan perlunya intervensi,”Yang perlu dilakukan untuk pencegahan dan penanganan stunting adalah penguatan kapasitas dan perilaku,” kata Junaedi Bakri.

Pencegahan dan penanganan stunting menurut, Junaedi Bakri, tidak cukup dengan intervensi gizi sensitif dan spesifik saja, namun harus berdasarkan berbagai literatur maupun studi komponen.
“Intervensi sensitif memiliki proporsi yang besar yakni sekitar 70 persen, sedangkan
intervensi spesifik hanya sebesar 30 persen saja. Hal utama yang perlukan dilakukan untuk percepatan penurunan stunting di kabupaten Jeneponto adalah penguatan kapasitas dan perilaku untuk mencegah Stunting, kolaborasi multi pihak untuk menguatkan kapasitas perilaku
pada keluarga dan pada remaja untuk mencegah stunting,” terang Junaedi Bakri.
Junaedi Bakri menambahkan, untuk menekan angka stunting dalam mencapai target di bawah 14 persen, Pemkab Jeneponto memiliki program gerakan zero stunting.

“Jadi program zero stunting Desa Kelurahan, zero stunting tingkat kecamatan ini kita harapkan dapat mewujudkan target di bawah angka 14 persen angka stunting di Jeneponto,” harap Junaedi Bakri.
Berkenaan dengan kegiatan tersebut, Junaedi Bakri menyambut baik kegiatan itu dengan harapan dapat dilaksanakan bukan hanya disektor kesehatan.
“Penanganan dan pencegahan stunting bukan hanya Dinas Kesehatan saja, tetapi juga disektor lain yang terkait dengan pencegahan stunting melalui aksi konvergensi kita semua, bersatu padu dengan aksi nyata hingga tingkat keluarga yang kita butuhkan untuk mencegah stunting,” Tutup Junaedi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
