Terkini.id, Jakarta – Pemerintah Republik Indonesia melalui Juru Bicara Kepresidenan Fadjroel Rachman menyampaikan alasan pemerintah melonggarkan PSBB.
Fadjroel menyebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak mungkin diterapkan dalam jangka waktu yang lama saat pandemi Covid-19.
Pasalnya kata Fadjroel, hal tersebut akan berdampak pada kehidupan perekonomian masyarakat.
“Yang lebih penting, karena tidak mungkin PSBB ini diimplementasikan dalam jangka lama karena harus menyelamatkan kehidupan sosial ekonomi,” bebernya seperti dikutip suara.com.
Fadjroel menuturkan hingga kini belum belum ada kepastian kapan adanya vaksin untuk Covid-19.
- Bupati Sidrap Turun Tangan Tata Kawasan Monumen Ganggawa, Jadi Ruang Publik dan Pusat Ekonomi
- Pemprov Sulsel Perkuat Infrastruktur dan Ekonomi Digital Hadapi Tantangan Global 2026
- Kunci Akselerasi Ekonomi Sulsel 2026 adalah Hilirisasi
- Kedubes Inggris Temui Wali Kota Makassar, Bahas Kerja Sama Ekonomi Kreatif, Transportasi, dan Olahraga
- Wali Kota Makassar Apresiasi Livin Fest 2025 Jadi Mesin Edukasi dan Penggerak Ekonomi
Karena itu, pemerintah memberlakuan tatanan new normal untuk menyelamatkan kehidupan sosial ekonomi yang juga disertai pertimbangan epidemiologi dan pertimbangan lainnya.
“Cara berpikirnya, kita menganggap bahwa, karena tidak bisa ditentukan kapan sebenarnya vaksin Covid-19 bisa ditemukan. Karena itu, misalnya UU nomor 2 tahun 2020, di situ disebutkan untuk jaga perekonomian nasional sampai akhir tahun anggarannya itu 2022. Jadi kesiapannya sampai akhir tahun anggaran 2022. Persiapannya tentu adalah protokol kesehatan berdasarkan WHO dan juga ada landasan hukumnya,” urainya.
Tak hanya itu, Fadjroel menuturkan di beberapa daerah yang menerapkan PSBB, juga sudah memasuki persiapan menuju tatanan normal baru.
Masih kata Fadjroel, diberlakukan tatanan normal baru, untuk mempertahankan keberlanjutan hidup dengan mempertahankan dua variabel yakni disiplin ketat terhadap kesehatan kolektif sesuai protokol dan menjaga produktivitas sosial dan ekonomi.
“Tentu menjaga produktivitas sosial dan ekonomi terutama sebenarnya pada kehidupan umkm yang untuk mikro saja itu ada 98,8 persen dari usaha di Indonesia itu ada di sektor mikro,” tuturnya lagi.
“Orang yang hari ini dagang dapat uang sebagian di makan kadang habis dan besok habis,” sambungnya.
“Jadi kalau mereka diharapkan terus berada di rumah, mereka akan hadapi kondisi yang sangat buruk sehingga yang namanya misbar atau miskin baru akan semakin bertambah,” jelasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
