Virus Corona Membunuh, Warga Soppeng Tetap Hidup Rukun dengan Jutaan Kelelawar

Terkini.id, Soppeng – Lalang (43 tahun), keluar dari Masjid Darul Salam, Jalan Pemuda Kabupaten Soppeng. Usai melaksanakan salat berjamaah.

Saat turun menyusuri anak tangga, Lalang bersama jamaah lain melihat jelas ratusan, bahkan ribuan kelelawar besar sedang bergelantungan di pohon. Orang Soppeng dalam bahasa bugis menyebutnya Panning.

Suara kelelawar besar yang biasa disebut Kalong juga jelas terdengar sampai halaman masjid. Sampai bau kotorannya pun tercium.

Baca Juga: Corona RI per 22 Januari Tembus 3.205 Kasus

Saat siang hari, kelelawar berdiam diri. Istirahat dan tidur. “Malam baru terbang mencari makan,” kata Lalang kepada Terkini.id, Selasa 28 Januari 2020.

Kelelawar di Kabupaten Soppeng tinggal di batang-batang pohon. Berkoloni. Tepat di pusat pemerintahan dan tempat aktivitas masyarakat di Kabupaten Soppeng.

Baca Juga: Usai Pulang Dari Arab Saudi, Sejumlah Petugas Umrah RI Terpapar...

Kelelawar ini paling senang bergelantungan di pohon asam. Saking banyaknya, semua daun pohon asam berguguran. Tidak bisa tumbuh. Hanya tersisa ranting dan batang pohon.

“Kami tidak terganggu dengan hewan itu,” kata Lalang.

Pemerintah Kabupaten Soppeng pun menjadikan kelelawar sebagai ikon daerah. Mempromosikan kelelawar sebagai objek wisata.

Baca Juga: Usai Pulang Dari Arab Saudi, Sejumlah Petugas Umrah RI Terpapar...

“Kami bangga ada kelelawar di tengah kota,” ungkapnya.

Semenjak berita virus Corona yang diduga berasal dari hewan seperti kelelawar membuat dunia heboh, karena virus telah membunuh puluhan orang di China, Lalang dan warga Soppeng lainnya mengaku tidak khawatir.

Beberapa warga yang ditemui Terkini.id mengaku tidak terpengaruh dengan berita virus Corona yang ganas. Mereka santai mendengar berita.

“Kalong sudah ada sebelum saya lahir. Kami tidak takut,” kata Aulya, warga Soppeng.

“Kalong di Soppeng sudah hidup ratusan tahun di sini,” tambahnya.

Meski tinggal di tengah-tengah pemukiman, warga mengaku kelelawar yang jumlahnya bisa mencapai jutaan ekor itu tidak pernah mengganggu. Bahkan pohon dan tanaman warga yang berbuah tidak pernah dimakan kelelawar.

Buah mangga yang masak di pohon, dekat pohon tempat kelelawar tinggal, tidak pernah terlihat warga dimakan kelelawar.

“Kelelawarnya pergi ke daerah lain mencari makan,”

Warga Soppeng juga tidak pernah berusaha mengusir atau menebang pohon yang sering dijadikan kelelawar tempat bergelantungan di siang hari.

“Kami biarkan saja,” kata Aulya.

Bahkan ada cerita turun-temurun yang sudah jamak diyakini warga Soppeng. Jika kelelawar hilang dari Soppeng, akan terjadi bencana besar. Jadi warga berharap kelelawar selalu ada di Soppeng.

“Itu (kelelawar) tanda buat kita,”

Bagi Anda yang belum pernah ke Soppeng, kelelawar bisa dijumpai di sepanjang jalan. Saat memasuki kota Soppeng.

Kelelawar besar berwarna hitam terlihat jelas bergelantungan di pohon. Jelang matahari terbit sampai matahari terbenam. Saat malam, kelelawarnya terbang jauh mencari makanan.

Bagikan