Terkini.id, Jakarta – Warga Timor Leste Chris Carrascalao ungkap jika warga sipil dipersenjatai oleh militer, akan berpotensi seperti Milisi Aitarak yang pernah dipimpin oleh Eurico Guterres.
Hal itu disampaikan oleh Chris Carrascalao saat menjadi saksi dari permohonan uji materi Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara (UU PSDN) di Mahkamah Konstitusi pada Selasa 14 Desember 2021.
Menurutnya, warga sipil yang dipersenjatai dan diberi kewenangan menghadapi ancaman pertahanan berpotensi memicu pelanggaran HAM berat.
Ia kemudian bercerita tentang Milisi Aitarak pimpinan Eurico Gutteres yang menewaskan hampir semua keluarganya.
Hari Sabtu 17 April 1999, dilaksanakan upacara di depan kantor Gubernur Timor Timur, yang dihadiri oleh pejabat Indonesia, termasuk ketua Milisi Aitarak, Eurico Guteres.
Saat upacara berlangsung, Eurico dengan lantang mengatakan bahwa semua pihak yang pro kemerdekaan Timor Leste harus dibunuh. Bahkan, Eurico mengatakan, seluruh Carrascalao juga harus dibunuh, terutama Manuel dan Mario Viegas Carrascalao.
Keduanya tidak lain adalah ayah dan om dari Chris Carrascalao.
“Saya dengan langsung dari RRI, waktu itu disiarkan langsung, (Eurico mengatakan bahwa) semua keluarga Carrascalao harus dibunuh sampai 7 turunan,” Ujar Chris dikutip dari Cnnindonesia pada Rabu 15 Desember 2021.
Saat itu, Chris dan ayahnya tidak berada di rumah saat kejadian. Ia sedang pergi ke bandara untuk menjemput adik bungsunya.
Namun setelah mendengar ancaman di radio, ia berniat untuk kembali ke rumah. Sebelum niat itu terealisasikan, adik lelakinya, Manelito Carrascalao menelponnya untuk meminta tidak pulang ke rumah.
Lantaran tidak dapat kembali ke rumahnya, ia mendatangi Komandan Korem Tono Suratman untuk meminta bantuan agar menghentikan serangan Milisi Aitarak. Namun, ia ditertawai.
Chris kemudian ke pihak Kepolisian meminta bantuan. Namun jawaban mereka sama saja.
Setelah itu, menurut Chris, hanya suara tembakan yang terdengar. Tidak ada yang bisa ia lakukan bahkan sampai tiga hari setelahnya.
Setelah kejadian itu, Chris menuju ke rumah sakit militer di Lahane, Dili, dan menemukan jasad adiknya dengan kondisi mengenaskan.
“Di situ saya berkesempatan, karena harus ke kamar mayat, itu kamar mayat penuh dengan mayat-mayat yang kondisinya sudah dimutilasi, dan itu menumpuk setinggi pinggang saya.”
“Tubuh adik saya ini kondisinya tidak beda dengan mayat-mayat yang lain,” ujar Chris.
Hingga kini, Chris masih trauma dan gerap tiap kali mengingat tragedi tersebut. Ia merasa diabaikan oleh pihak pemerintah Indonesia dan pihak keamanan saat tragedi tersebut.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
