Masuk

Profil dari Sosok Uskup Belo, Tokoh Timor Leste yang Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Anak-anak

Komentar

Terkini.id, JakartaUskup Belo yang memiliki nama lengkap Carlos Filipe Ximenes Belo, tengah ramai dibicarakan karena skandal pelecehan seksual yang pernah dilakukannya. 

Tokoh dari Timor Leste tengah itu dituduh telah lakukan pelecehan seksual pada anak laki-laki. Saat perjuangan kemerdekaan Timor Leste tahun 1990-an silam.

Tuduhan pelecehan seksual tersebut tentu menggemparkan Gereja Katolik Timor Leste yang pernah dipimpin Uskup Belo

Baca Juga: Tak Ada Sel Sperma, Putri Candrawathi Rekayasa Soal Pelecehan

Karena, Uskup Belo bukan hanya seorang pemimpin gereja Katolik Roma Timor-Leste saja, tetapi juga sosok seorang pahlawan nasional juga harapan bagi rakyatnya.

Ia sangat dihormati di Timor Leste. Seperti apa sosoknya?

Uskup Belo lahir pada 3 Februari 1948 di Wailacama, Timor Leste. Belo dibesarkan dalam keluarga petani. 

Baca Juga: ‘Uskup memperkosa dan melecehkan saya’ Cerita dari Korban Uskup Belo, Timor Leste, Penerima Nobel Perdamaian

Ia mulai tertarik mengenai pertanyaan agama sejak usia dini. Selanjutnya Belo ditahbiskan menjadi imam Katolik pada tahun 1981.

Kemudian, ditahbiskan sebagai uskup (kepala gereja Katolik) pada tahun 1983. Sebagai pemimpin spiritual di wilayahnya yang mayoritas beragama Katolik, belo menjadi juru bicara utama dari rakyat Timor.

Carlos Belo pun secara terbuka mengecam invasi Indonesia ke Timor Leste.

Dalam perjuangannya itu Uskup Belo diawasi bahkan diintimidasi. Namun, dia tidak mundur dan terus bicara dalam perlawanannya yang tanpa kekerasan pada penindasan.

Baca Juga: Profil Febri Diansyah Eks Jubir KPK Jadi Pengacara Keluarga Sambo

Kemudian di tahun 1989 ia pun diangkat menjadi administrator apostolik Dili. 

Dia mengecam taktik dan kebijakan keras pemerintah Indonesia kala itu. 

Belo berhasil mengkampanyekan reformasi di militer dan pemecatan dua jenderal pada 1991, setelah pembantaian demonstran damai di Dili.

Di tahun 1989 Tokoh Timor Leste tersebut menuntut supaya PBB mengatur plebisit di Timor Timur. 

Dua tahun kemudian setelah peristiwa pembantaian berdarah, Belo membantu menyelundupkan dua saksi ke Jenewa. Kemudian mereka menggambarkan pelanggaran tersebut kepada Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) PBB.

Perjuangan dari Uskup Belo tersebut memperoleh simpati dari Paus di Roma. Hal tersebut ditunjukkan Paus dengan mengunjungi Timor Timur pada akhir tahun 1980-an.

Belo mencari cara untuk damai dalam menyelesaikan masalah di tanah airnya. Karena ia sangat percaya pada perlawanan tanpa kekerasan.

Pada Juli 1994, Uskup Belo menulis surat terbuka. ia menguraikan keprihatinannya pada rakyat Timor Timur.

Belo mengusulkan supaya pemerintah Indonesia mengurangi keberadaan militernya, memperluas hak-hak sipil warga negara, serta mengizinkan Timor Timur untuk mengadakan referendum demokratis terkait penentuan nasib sendiri.

Referendum, yang dibuat tahun 1999 itu pun, menjadi jalan pembuka bagi kemerdekaan Timor Leste di tahun 2002.

Sebelumnya di tahun 1996, Belo mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian, bersama dengan aktivis serta diplomat José Ramos-Horta, yang sekarang menjadi presiden Timor-Leste.

Nobel Perdamaian tersebut atas upaya mereka dalam meraih solusi yang adil dan damai atas konflik di Timor Timur.

Selanjutnya, pada November 2002. Belo mengundurkan diri sebagai administrator apostolik Dili dengan alasan kesehatan yang mulai buruk.

Bole menolak seruan untuk mencalonkan diri menjadi presiden di Timor Timur. 

Pada tahun 2004 dia mulai melayani sebagai misionaris di Mozambik.

Belo mengundurkan diri sebagai kepala gereja. Paus pun membebaskannya dari tugas pada 26 November 2002.

Belo dinyatakan menderita ‘kelelahan fisik dan mental.’ Sehingga Pada Januari 2003, Belo harus meninggalkan Timor-Leste, secara resmi untuk melakukan pemulihan diri di Portugal.

Setelah melakukan pembicaraan dengan prefek Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa serta rektor mayor kongregasi Salesian. Carlos Belo memilih untuk mengambil posisi baru, katanya dalam wawancara dengan agen Katolik UCA News.

Pada Juni 2004 Belo menjadi ‘asisten imam’ di Maputo, Mozambik.

Itulah profil dari sosok Uskup Belo, yang menggemparkan Gereja Katolik Timor Leste karena skandal pelecehan seksualnya. 

Kabarnya, Vatikan telah menjatuhkan sanksi disiplin terhadap Uskup Carlos Ximenes Belo atas tuduhan pelecehan seksual tersebut.