Abdul Qadir Jailani, Tarekat Cinta

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

Di penghujung ramadan ini, perjalanan spiritual kita sebagai abid atau hamba semakin terasah, mengasah jiwa untuk mendapatkan ketenangan batin, mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui anak tangga tarekat cinta.

Untuk mendapatkan ketenangan batin seiring mewabahnya covid-19 yang selalu menghadirkan kekhawatiran dan ketakutan berlebih itu, maka jalan terbaik adalah dekat kepada Allah melalui tarekat, berzikir sepanjang waktu untuk gapai ridha dan cinta-Nya yang abadi.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1077-1166) adalah sufi yang cukup masyhur, beliau mengenalkan tarekat cinta sebagai jalan sufi taqarrub ilallah, mendekat pada sang khalik dan mendekap cinta-Nya.

Dalam tarekat cintanya, Al-Jailani dalam “at- Tarifat” mengingatkan tarekat merupakan jalan lurus yang dilalui oleh orang-orang shaleh sebagai salik ke jalan Allah yang meraih maqam-maqam spiritual.

Perjalanan spiritual seorang hamba yang memadukan fiqih sebagai tubuh syariat dan tarekat sebagai ruhnya. Selain menguasai tasawuf, Abd. Qadir Jailani juga dikenal ahli fiqih.

Baca juga:

Tarekat cinta yang dikembangnya adalah menempatkan zuhud, tidak cinta dunia dan wara memelihara diri dari subhat dan haram itu sebagai pijakan.

Fathullah uraikan, Abd. Qadir Jailani mengatakan seseorang tak dapat dikatakan telah sampai maqam di sisi sang cinta tanpa melalui jalan zuhud dan wara.

Wara adalah jalan kehati-hatian menghindari yang subhat apalagi haram. Orang wara adalah mereka yang mampu mengendalikan nafsunya, nafsu duniawi.
Orang qanaah, merasa cukup segala yang dimiliki, sandaran dan tujuannya hanya kepada Allah semata, pemilik cinta yang abadi.

Belum dikatakan cinta kala abid masih menitipkan cintanya selain pada Allah. Selama masih cinta harta kekayaan, kekuasaan dengan menuruti nafsunya, ia sulit raih cinta ilahi sepenuhnya.

Demikianlah tarekat cinta Abd. Qadir Jailani mengajak menempuhnya dengan zuhud, qanaah dan wara, niscaya hamba yang mampu melampaui tahapan itu, akan hidup dengan cintanya pada sang khalik, menggapai ketenangan jiwa.

Terhindarkan dari segala kekhawatiran dan ketakutan yang acapkali menghantui. Dengan mengingat Allah jiwa akan tenang. Mari memaksimalkan ibadah di penghujung ramadan ini untuk meraih cinta Allah seraya bermunajat agat senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya dari berbagai petaka, terutama covid-19 yang melanda dunia.

Firdaus Muhammad
(Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel)

Komentar

Rekomendasi

Pesan-Pesan Ramadan dari New York

Vaksin Lebaran

Idul Fitri dan Fitrah Cinta

Memaafkan dan Dimaafkan

Keluarga Dokter

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar