Ada Pegawai Malu Kerja di KPK, Denny Siregar: Kok Tetap Pengen Kerja di Sana?

Terkini.id, Jakarta – Baru baru ini, aktivis antikorupsi yang juga mantan Juru Bicara KPK, Febridiansyah memosting cuitan tentang seorang kawannya yang kini malu bekerja di KPK.

Hal itu setelah KPK akhir akhir ini seringkali menuai kontroversi.

Atas cuitan itu, penggiat media sosial Denny Siregar mengaku heran. 

Baca Juga: Terkait Akun OpenSea, KPK Tegaskan Tak Pernah Buat Akun Jualan...

Denny yang selalu berseberangan dengan aktivis aktivis antikorupsi yang sering mengkritik KPK, menyampaikan nyinyirannya atas cuitan Febridiansyah tersebut.

“Loh, mas @febridiansyah. Tapi kawan2 mas yang kemaren di keluarin dari @KPK_RI itu ngotot gak mau dipecat,” cuit Denny Siregar di akun Twitternya, dilihat Rabu 11 Agustus 2021. 

Baca Juga: Singgung Ustaz Palsu, DS: Kalau Ceramah selalu Bicara Kesederhanaan Nabi,...

“Katanya malu, tapi kok tetap pengen kerja disana ya? Apa krn sampingannya lumayan?” tambahnya lagi.

Denny menyinggung sejumlah eks pegawai KPK yang masuk dalam 75 orang tak lulus TWK, yang saat ini berjuang memprotes pemberhentiannya.

ICW Anggap Wajar

Indonesia Corruption Watch (ICW) sendiri menganggap wajar jika ada salah satu pegawai yang mengaku malu dengan KPK saat ini. ICW menyebut KPK memang sudah tidak seperti sedia kala.

Baca Juga: Singgung Ustaz Palsu, DS: Kalau Ceramah selalu Bicara Kesederhanaan Nabi,...

“Bagi ICW hal itu wajar, mengingat kondisi KPK memang tidak seperti sedia kala. Praktis nilai-nilai integritas yang ada, tumbuh, dan kembang di KPK perlahan mulai terkikis,” kata peneliti ICW, Kurnia Ramadhana, saat dihubungi, Rabu 11 Agustus 2021.

Lebih lanjut, Kurnia menyebut malunya pegawai KPK juga sebagai akibat performa KPK yang kian anjlok dan penanganan internal yang diwarnai perdebatan. Selain itu, menurutnya KPK saat ini tidak bisa diandalkan dalam pemberantasan korupsi.

“Tidak cukup itu, performa KPK pun kian anjlok, utamanya dalam hal penindakan. Pengelolaan internal kelembagaan juga diwarnai perdebatan, misalnya penyelenggaraan tes wawasan kebangsaan bagi pegawai KPK. Secara sederhana, KPK memang benar-benar tidak bisa diandalkan lagi untuk tugas pemberantasan korupsi,” ucapnya.

“Sederet prestasi KPK kini telah berubah menjadi kontroversi,” lanjutnya.

Kurnia menyebut berubahnya KPK yang dulu menjadi sekarang ini bermuara pada isu dua utama. “Yakni terpilihnya lima komisioner yang penuh dengan permasalahan dan perubahan UU KPK,” imbuhnya.

Sedangkan, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) juga turut menganggap wajar ketika ada salah satu pegawai KPK yang merasa malu dengan lembaga tempatnya bekerja. MAKI menilai itu sebagai pertanda terjadinya penurunan di KPK.

“Saya kira wajar karena memang KPK sekarang menurun, tidak ada sesuatu yang dibanggakan lagi gitu, meski dia bukan tugas di penanganan perkara, dia bisa jadi tetap malu,” kata koordinator MAKI, Boyamin Saiman, saat dihubungi, Rabu 11 Agustus 2021.

Boyamin lantas membandingkan kondisi KPK yang dulu dan sekarang. Dia menyebut dulu pegawai KPK juga tertutup terhadap statusnya sebagai pegawai KPK. Namun itu karena sebatas menjaga kerahasiaan dan keamanan diri.

“Ya ini diakui atau tidak bahwa memang terjadi penurunan kualitas KPK, kalau dulu orang itu menyatakan tidak mengakui pegawai KPK dalam rangka untuk menjaga kerahasiaan, bahwa dia karena ketika bertemu orang memang diminta tidak untuk secara nyata menyatakan dirinya pegawai KPK, untuk menjaga kerahasiaan dan keamanan, dan itu memang sesuatu yang pasti dalam hatinya membanggakan malahan sebagai pegawai KPK tersebut,” jelasnya.

Lebih lanjut, Boyamin mengungkap kondisi malunya para pegawai ini juga ternyata dialami pegawai KPK yang baru saja dilantik sebagai ASN. Menurutnya memang sudah tidak ada lagi kebanggaan dari para pegawai KPK terhadap lembaganya.

“Karena saya tahu juga yang lain itu kemudian merasa, beberapa orang yang masih kemarin lolos dan sekarang pegawai KPK, ASN, nampaknya juga tidak begitu bangga, dan rasanya bahasa saya begitu lah berkomunikasi gitu tidak bangga seperti dulu-dulu lagi. Ya kalau Febridiansyah menemukan temannya ada yang malu, ya itu konsekuensi dari penurunan kualitas KPK,” ujarnya.

Cuitan Febri Diansyah

Sebelumnya, Febri Diansyah mengaku mendengar cerita kawannya yang bertugas sebagai pegawai KPK malu jika ketahuan kerja di KPK. Hal itu diungkap Febri karena pegawai KPK itu merasa malu lantaran sejumlah kontroversi yang dialami lembaga antirasuah itu akhir-akhir ini.

Mantan juru bicara KPK yang kini bergelut di ranah litigasi bagi para korban-korban korupsi itu mengaku baru-baru ini kedatangan seorang kawan yang masih aktif di KPK.

Si kawan ini diajak Febri untuk sekadar berbagi cerita sembari ditemani kopi.

“Beberapa hari ini, saya kontakan dengan seorang teman yang aktif di KPK. Saya bilang, sesekali kita ngobrollah. Diskusi atau sekadar ngopi,” ucap Febri melalui akun Twitternya, Selasa 10 Agustus.

Kembali pada cerita Febri itu. Si kawan yang bekerja di KPK itu menitip pesan yang cukup membuat Febri terhenyak. Apa pesannya?

“Dia bilang ya pengin banget ngobrol lagi tapi ia pesan, ‘Kalau ketemu orang lain, jangan bilang aku dari KPK ya’,” kata Febri.

Febri serta-merta menyampaikan rasa penasarannya ke kawan itu. “Lho, kenapa?” tanya Febri.

“Malu,” jawab si kawan, yang ditirukan Febri.

“Lho Kenapa?’ tanyaku. ‘Malu’, ujarnya,” tambah Febri.

Febri pun menyebut alasan kawannya malu jika ketahuan kerja di KPK karena sejumlah alasan. Salah satunya karena akhir-akhir ini KPK sering menuai kontroversi.

Ia pun berharap suatu hari KPK bisa bekerja sesuai harapan masyarakat. “Oh ya, krn ada yg tanya, teman Pegawai KPK tsb sudah melewati alih status ASN.. Yg bikin saya tersentuh, krn ia bukan bagian dari 75 atau yg vokal di KPK.. Ada jg pegawai lain yg sedih dan merasa bersalah seperti “meninggalkan” tmn2 75,” pungkas Febri

Bagikan