Analisis Mahfud MD Soal Moeldoko Terima Posisi Ketum, Benarkah Balasan karena Pernah Ditekan Demokrat?

Analisis Mahfud MD Soal Moeldoko Terima Posisi Ketum, Benarkah Balasan karena Pernah Ditekan Demokrat?

R
Resty
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Perbedaan sikap Moeldoko sebelum dan setelah Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang disoroti oleh beberapa pihak. Pasalnya, Moeldoko sempat mengatakan bahwa ia adalah pihak luar yang tidak bisa menjadi Ketua Umum Demokrat.

“Saya ini orang luar, enggak punya hak apa-apa gitu lho, yang punya hak kan mereka di dalam. Apa urusannya? Nggak ada urusannya,” kata Moeldoko, pada Rabu 3 Februari 2021, dilansir dari Kompas.

Saat itu, Moeldoko bahkan mempringatkan untuk hati-hati agar kabar soal dirinya tidak menjadi fitnah.

“Jadi saya ingatkan, hati-hati, jangan memfitnah orang. Hati-hati saya ingatkan itu,” kata Moeldoko.

Namun, kemudian Moeldoko menerima jabatan Ketua Umum yang diputuskan dalam KLB Deli Serdang.

Baca Juga

“Baik, dengan demikian. Saya menghargai dan menghormati keputusan saudara. Oke, kita terima menjadi ketua umum Partai Demokrat,” ucap Moeldoko saat dihubungi penyelenggara KLB via telepon, dilansir dari Kompas pada Jumat, 5 Maret 2021.

Perbedaan sikap Moeldoko tersebut juga disampaikan oleh Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD.

Menurutnya, saat isu soal keterlibatan Moeldoko berhembus, ia masih mengelak bahwa ia tidak memiliki keinginan menjadi Ketum.

“Bahkan ketika saya bertemu Pak Moeldoko sendiri, Pak Moeldoko itu dua minggu yang lalu itu masih mengatakan ‘loh, saya ndak kok’ katanya. Ketemu dengan saya,” kata Mahfud MD, dikutip dari video yang diunggah kanal youtube tvOneNews pada Sabtu, 6 Maret 2021.

Mahfud lalu menyoroti bahwa meskipun telah membantah tudingan, Moeldoko masih terus dikait-kaitkan dengan kudeta, bahkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri.

Mahfud menilai bahwa mungkin akhirnya Moeldoko merasa lelah menegaskan bahwa ia akan melakukan sesuatu yang ia yakini benar jika terus dikaitkan.

Sesuatu yang ia maksudkan tersebut mungkin adalah menerima jabatan Ketum di KLB, menurut Mahfud.

“Tetapi, Mbak, yang menarik itu ketika beberapa hari yang Pak Moeldoko lalu menjawab. Karena sesudah Pak Moledoko bilang tidak, itu kan setiap hari dia masih diejek terus, melalui televisi, melalui medsos sehingga dia capek. Pak SBY sendiri menyatakan saya turun gunung dan menyebut nama Pak Moeldoko,” ungkap Mahfud.

“Nah, di situ Pak Moeldoko lalu menjawab ‘loh kalau saya dibegitukan terus, saya akan melakukan sesuatu yang saya pikirkan benar.’ Mungkin KLB ini jawabannya. Mungkin. Tetapi pemerintah tidak ikut-ikut,” lanjutnya lagi.

Sebelumnya, Moledoko memang pernah menegaskan agar ia tidak ditekan-tekan mengenai kisruh Demokrat.

“Sehingga saya enggak ngerti tuh perkembangan internal seperti itu. Saya pikir sudah selesai. Saya diam, jadi janganlah menekan-nekan saya. Dan saya ingin mengingatkan semuanya ya, karena saya bisa sangat mungkin melakukan, apa itu, langkah-langkah yang saya yakini,” ujar Moeldoko, pada Kamis, 25 Februari 2021, dilansir dari Tempo.co.

“Saya katakan, saya tidak tahu situasi itu. Saya pesan seperti itu saja, karena saya punya hak seperti apa yang saya yakini,” lanjutnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.