BNPT Buka Peluang Jemput Anak WNI Eks ISIS, Ferdinand: Untuk Apa Menambah Beban Radikalisme?

Terkini.id, Jakarta – Mantan politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahean tak sepakat dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang membuka peluang menjemput anak WNI eks ISIS.

Ferdinand mengatakan bahwa hal itu hanya akan menambah beban radikalisme yang kini sedang dihadapi Indonesia.

Oleh sebab itu, ia meminta Kepala BPIP, Komjen Boy Rafli Amar untuk membatalkan ide pemulangan anak WNI eks ISIS tersebut.

Baca Juga: Ferdinand Bela Gus Yaqut: Tak Usah Copot Berlebihan, Didebat Saja...

“Pak Boy Rafli, sebaiknya ide ini dibatalkan,” katanya melalui akun Twitter FerdinandHaean3 pada Jumat, 17 Februari 2021.

Ferdinand menjelaskan, saat ini Indonesia sedang menghadapi masalah radikalisme dan terorisme yang terus tumbuh. 

Baca Juga: Tanggapi Relawan Anies, Ferdinand: Tuhanku Tak Pernah Lakukan Tipu Daya

Ia mennyinggung bahwa Densus 88 hampir tiap hari menangkap terduga teroris. 

“Untuk apa kita menambah beban radikalisme dgn membawa mekeka kembali? TIDAK PERLU!” tegas Ferdinand Hutahaean.

Sebelumnya, Boy Rafli Amar menyinggung kemungkinan Pemerintah Indonesia membawa pulang anak dari warga Indonesia yang diproses hukum di luar negeri usai menjadi kombatan ISIS.

Baca Juga: Tanggapi Relawan Anies, Ferdinand: Tuhanku Tak Pernah Lakukan Tipu Daya

“Jadi ada pesan, bagaimana anaknya ini bisa dititipkan untuk dibawa pulang kepada keluarga di Indonesia,” katanya dalam rapat bersama Komisi III DPR pada Rabu, 15 September, dilansir dari CNN Indonesia.

Boy Rafly menyebut, kemungkinan pihaknya akan terbang ke Suriah dan Irak pada akhir Desember untuk melakukan penilaian terhadap keluarga WNI di sana.

Sebagai informasi, dalam catatan BNPT, terdapat 2.113 WNI yang pergi ke Irak dan Suriah. 

Kondisi mereka saat ini, yaitu 111 orang meninggal dunia, 195 orang kembali ke Indonesia, 556 dideportasi, dan 1.251 masih berada di zona konflik.

Boy menyebut bahwa BNPT akan mendata lebih dalam soal warga negara Indonesia yang masih berada di Suriah dan Irak.

“Kegiatan selanjutnya adalah verifikasi data dilanjutkan dengan asesmen,” ujar Boy.

Jika nanti ada yang dipulangkan, terutama anak-anak, Boy mengatakan ada satuan tugas yang akan memantau mereka.

Adapun sejauh ini, katanya, pemerintah telah membentuk Satgas Foreign Terrorist Fighter (FTF) dengan Boy sebagai kepalanya.

Bagikan