Masuk

Seruan Kelompok ISIS Kepada Pengikutnya Agar Memanfaatkan Momentum Perang Ukraina dan Rusia

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Kelompok jaringan terorisme radikal ISIS atau kelompok islamic state memberikan pernyataan terkait perang yang sedang terjadi di Ukraina saat ini.

ISIS menyamakan kejadian yang terjadi di Ukraina saat ini seperti layaknya tentara Salib yang sedang berperang.

Selain itu kelompok ISIS juga menyarankan kepada para penganutnya agar melakukan program balas dendam atas kematian mantan pemimpin mereka, Abu Ibrahim Al-Qurashi.

Baca Juga: Media Asing Sebut Putin Tidak Akan Hadir Dalam KTT G20

ISIS menyatakan bahwa pengikutnya harus memanfaatkan momentum perang Rusia dan Ukraina.

Dilansir dari halaman sindonews pada Selasa 19 April 2022, pihak ISIS juga menghasut para pengikutnya untuk melakukan serangan di negara Eropa.

“Kami mengumumkan, mengandalkan Tuhan, kampanye yang diberkati untuk membalas dendam,” bunyi pesan kelompok ISIS, mengacu pada kematian al-Qurashi, yang disebarkan di aplikasi Telegram, dilansir dari sindonews Selasa 19 April 2022 bersumber dari AFP.

Baca Juga: Rusia Tembakan Rudal Jelajah ke Beberapa Kota di Ukraina Selama Jam Sibuk

Abu Omar Al Muhajjr mengatakan pengikutnya harus mengambil keuntungan yang terjadi saat ini di kawasan Eropa terkait perang Rusia dan Ukraina.

“Ambil keuntungan dari kesempatan yang tersedia dari para tentara salib yang saling berperang,” ujarnya.

Sebagai informasi bahwa Ketua ISIS sebelumnya yaitu Abu Ibrahim Al Qurashi tewas akibat bom bunuh diri. Bom bunuh diri yang Ketua ISIS itu lakukan adalah untuk mencegah dirinya tertangkap dalam serangan Amerika Serikat di Barat Laut Suriah.

Pihak Gedung Putih dan Pentagon membenarkan kematian Pemimpin ISIS tersebut. Setelah kematian Abu Ibrahim, ISIS menunjuk pemimpin baru yaitu Abu Hasan Al-Hashemi Al Qurashi.

Baca Juga: Perdana Menteri Kanada Anggap Putin Telah Gagal Invasi Ukraina

Tidak diketahui latar belakang ketua baru ISIS ini. Satu hal yang pasti bahwa Abu Hasan ialah pemimpin ketiga kelompok jihadis sejak awal.

ISIS sendiri telah kehilangan wilayahnya akibat serangan dari pihak militer Amerika Serikat pada bulan Maret 2019. Sisa anggota ISIS saat ini tersebar di tempat persembunyian gurun.