Terkini, Makassar – Debat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Selatan yang berlangsung di Hotel Four Points, Senin malam, 28 Oktober 2024, memunculkan salah satu isu penting yang terus menjadi perbincangan: data kemiskinan di Sulawesi Selatan.
Kandidat nomor urut 2, Andi Sudirman Sulaiman (ASS), yang pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan, mengangkat isu peningkatan kemiskinan di Kota Makassar selama masa pemerintahannya.
Tuduhan ini seolah ditujukan langsung kepada pesaingnya, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto, Wali Kota Makassar dua periode yang kini menjadi calon gubernur.
Dalam debat tersebut, Andi Sudirman menyebutkan bahwa angka kemiskinan di Makassar mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir, memberikan kesan bahwa pengelolaan kota di bawah Danny kurang efektif dalam mengatasi masalah kemiskinan.
Namun, pernyataan ini mendapat respons tegas dari Asri Tadda, juru bicara pasangan Danny Pomanto dan Azhar Arsyad (DIA). Menurutnya, tuduhan ini tidak mencerminkan gambaran yang sesungguhnya terkait dinamika kemiskinan di Kota Daeng dan hanya menyederhanakan persoalan.
- Penataan PKL Dibarengi Pemberdayaan, Pemkot Makassar Gandeng Bank Sulselbar Salurkan KUR untuk UMKM
- Inovasi Pengolahan Sampah Berbasis Magot PT Vale Dihadirkan Dalam Pameran Lingkungan Internasional KemenLHK
- Di Ujung Gubuk Reot, 7 Tahun Sebatang Kara, Daeng Sangkala Terbaring Sakit Tanpa KTP dan Perawatan
- Pebalap Astra Honda Ramadhipa Bidik Podium Kedua di Moto3 Junior World Championship Estoril
- Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi Ikuti Pelatihan PAKU Integritas 2026 yang Digelar KPK
Fluktuasi Data Kemiskinan Sulawesi Selatan dan Kota Makassar
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Sulawesi Selatan menunjukkan tren fluktuatif. Pada 2021, angka kemiskinan berada di 8,78%, turun menjadi 8,63% pada 2022, namun kembali naik tipis menjadi 8,70% pada 2023.
Di Kota Makassar sendiri, persentase kemiskinan pada 2021 tercatat sebesar 4,82%, turun menjadi 4,58% pada 2022, namun mengalami kenaikan kembali menjadi 5,07% pada 2023.
Asri menjelaskan, meskipun secara statistik terdapat peningkatan angka kemiskinan di Makassar, yakni sekitar 0,25% atau setara dengan 5.630 jiwa selama periode 2021 hingga 2023, hal tersebut tidak bisa serta merta diartikan sebagai kegagalan pemerintah kota.
“Faktanya, Kota Makassar menanggung beban besar dari urbanisasi yang terjadi, di mana pertumbuhan ekonomi yang tinggi membuat banyak masyarakat dari daerah lain datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik,” ujarnya pada Rabu, 30 Oktober 2024.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
