Masuk

Dewan Sebut Sekolah Bukan Satu-satunya Tempat Belajar

Komentar

Terkini.id, Makassar – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar menyebut Izin pembukaan sekolah atau pembelajaran tatap muka yang sepenuhnya tergantung pemerintah daerah mesti hati-hati.

Pasalnya, sekolah baik di daerah zona hijau, zona kuning, zona oranye, maupun zona merah boleh dibuka jika diizinkan oleh Pemda. Syaratnya mempertimbangkan kesiapan sekolah dan juga izin orang tua murid.

Anggota Komisi D Bidang Kesehahteraan Masyarakat DPRD Kota Makassar, Yeni Rahman, menilai sekolah bukan satu-satunya tempat belajar untuk anak-anak. 

Baca Juga: Serap Aspirasi Warga Dg Tata Lama, Anggota DPRD Makassar Hj Muliati: Kita Akan Kawal

Saat ini, penerapan protokol Covid-19 di Makassar dinilai masih sulit dilakukan terhadap Sekolah Dasar (SD) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Yang paling harus diperhatikan itu anak SD karena susah. Sulit dia pakai masker, dia mau lepas terus,” kata Yeni Rahman, Selasa, 24 November 2020.

Menurutnya, kendati sejumlah regulasi telah mengatur sekolah tatap muka, psikologi anak-anak cenderung ingin terus bermain dan berinterksi. 

Baca Juga: Dengar Keluhan Warga, Legislator DPRD Makassar Hasanuddin Leo: Rumah Saya Terbuka Kapan Saja

“Sehingga meski ada aturan pembatasan jumlah siswa hal ini akan tetap sulit dilakukan,” ungkapnya.

“Sempat saya dengar setelah dua bulan dibuka SMA baru dibuka SMP lalu SD dan PAUD, SMP bisa saja tapi SD ini ke bawah sulit,” sambungnya lagi.

Yeni menyebut pembukaan kembali sekolah harus diterapkan dengan penuh pertimbangan dan perencanaan. 

Seperti tes usap terhadap seluruh elemen di sekolah wajib dilakukan sebagai prosedur standar protokol Covid-19.

Baca Juga: Anggota DPRD Makassar Hj Muliati Serap Aspirasi Warga Daeng Tata Lama

“Jadi anak-anak ini di swab, yang di swab semua, penjaga sekolah, cleaning servis hingga guru. Tentu saja kita lebih hati-hati supaya tidak bertambah kasus,” ujar legislator PKS ini.

Selain itu, ia mengatakan peran orang tua murid menjadi berlipat, pengawasan dan pembelajaran mesti berjalan beriringan antara orang tua dan guru di rumah maupun di sekolah.

“Jadi meski setengah jam sekolah itu mestinya orang tua ambil peran di situ,  memberi pembelajaran karakter ke anak di luar jam sekolah,” pungkas Yeni.