Saat itu, entah kenapa, saya merasa seperti penjual obat di pasar malam. Tapi saya tahu, kalimat2ku sedang membangunkan keyakinannya. Saya seolah memberikan sugesti kepadanya. Bahwa ia tidak lumpuh.
Pelan-pelan, Bu Rani mencoba bangun. Ia terduduk. Lalu menurunkan kakinya. Tangannya meraba tepian tempat tidur, mencari tumpuan. Suaminya tegang, nyaris tak berkedip.
“Satu langkah, Bu. Ayo. Bagus. Sedikit lagi…”
Bu Rani berdiri.
Ragu. Lalu melangkah. Satu… dua… tiga langkah… Menuju suaminya.
- Dirgahayu ke-23 Terkini.id, Kepala Dinas Dukcapil Jeneponto Harap Tetap Kokoh Menyampaikan Informasi Faktual
- Pemkot Makassar Kedepankan Cara Humanis, 20 Lapak Dibongkar Mandiri
- Aksi AeroTani Mahasiswa Polbangtan Kementan Curi Perhatian di Gerakan Tanam Serempak
- 23 Tahun Terkini.id, Kapolsek Arungkeke Harapkan Tetap Jadi Pelita Informasi Tepercaya di Jeneponto
- Ansariadi, Putra Bulukumba dengan Jejak Global, Kini Pimpin FKM Unhas
“MasyaAllah…” gumam saya dalam hati.
Ia mulai percaya diri. Tubuhnya tegap. Kakinya mantap.
Ia berhasil!
Senyum saya mengembang. Tapi saya yakin — senyum mereka jauh lebih lebar. Bahagia tak terkira.
Bu Rani spontan mencium tangan saya.
“Terima kasih, Dokter…” katanya lirih
Ia keluar dari ruangan saya. Berjalan. Tanpa dipapah. Tanpa dibopong.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
