Saat itu, entah kenapa, saya merasa seperti penjual obat di pasar malam. Tapi saya tahu, kalimat2ku sedang membangunkan keyakinannya. Saya seolah memberikan sugesti kepadanya. Bahwa ia tidak lumpuh.
Pelan-pelan, Bu Rani mencoba bangun. Ia terduduk. Lalu menurunkan kakinya. Tangannya meraba tepian tempat tidur, mencari tumpuan. Suaminya tegang, nyaris tak berkedip.
“Satu langkah, Bu. Ayo. Bagus. Sedikit lagi…”
Bu Rani berdiri.
Ragu. Lalu melangkah. Satu… dua… tiga langkah… Menuju suaminya.
- Paskibraka Makassar Tampilkan Formasi Benteng Rotterdam dan Stupa Borobudur di HUT ke-81 RI
- Bupati, Wabup dan Forkopimda Jeneponto Ikuti Apel Kehormatan dan Renungan Suci HUT ke-81 RI
- Bukan Cuma Keluarga Besar yang Kecewa, Semua Parpol Pengusung pun Sepakat Rekomendasikan Pemakzulan Bupati Gowa
- Pemkab Jeneponto Gelar Gladi Bersih Pengibaran dan Penurunan Bendera Merah Putih Jelang HUT ke-81 RI
- Ketua DPRD Bulukumba Umy Asyiatun Dipercaya Pimpin ADKASI Sulsel, Perjuangkan Tambahan TKD
“MasyaAllah…” gumam saya dalam hati.
Ia mulai percaya diri. Tubuhnya tegap. Kakinya mantap.
Ia berhasil!
Senyum saya mengembang. Tapi saya yakin — senyum mereka jauh lebih lebar. Bahagia tak terkira.
Bu Rani spontan mencium tangan saya.
“Terima kasih, Dokter…” katanya lirih
Ia keluar dari ruangan saya. Berjalan. Tanpa dipapah. Tanpa dibopong.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
